Api yang menghanguskan

Juni 2, 2012 pada 6:23 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , ,

Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.
(Ibrani 12:29)

Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!
(Mazmur34:9)

Dalam salah satu makna “orang kudus” diartikan sebagai “orang-orang yang sempurna”.
Orang-orang yang sempurna ini diajak agar senantiasa takut akan TUHAN. Takut di sini diterjemahkan sebagai menghormati dan dengan demikian senantiasa menyembahNYA dalam ibadah kehidupan kita.

Yang senantiasa menghormati DIA dikatakan tidak akan berkekurangan.
Orang yang mampu menghormati DIA tentu adalah dia/mereka yang telah mengakui dosanya dan TUHAN dalam ROH KUDUS telah menaunginya dalam hati. Sebab oleh Roh KUDUS kita dapat menerima anugerah-anugerah, karunia demi karunia, pemberian-pemberian, dan itu membuat kita tidak kekuarangan suatu apapun dalam dan demi kemulianNYA.

Pertanyaannya, kenapa justru orang yang sempurna ini yang diajak senantiasa takut, senantiasa hormat kepada TUHAN?.

Kita tidak asing dengan “Anak Domba ALLAH, YESUS, korban yang sempurna”.
Melalui cara Kristus, maka kita bisa sempurna, semakin disempurnakan, dan karena pada suatu masa kita para pemberani mengungkapkan percaya kita, maka kehidupan kita akan diubahkan dan sedang melalui proses hidup yang senantiasa harus dijaga, yaitu dijaga hanya untuk kemuliannya.
Tidak dipungkiri semakin kita menyerahkan hidup kita kepada TUHAN, maka semakin peperangan rohani kita hebat dan membutuhkan tenaga. Yesus dalam keadaanNYA sebagai manusia jelas menggambarkan itu semua, Tuhan kita menyerahkan seluruh hidupNYA kepada BAPA, dan lihatlah betapa menderitanya DIA, bahkan rela disalibkan.
Lihat para Rasul, panggilan mereka nyatanya berujung pada kematian yang mengerikan.
Polycarpus ketika beliau akan dibakar karena dipaksa untuk meninggalkan imannya kepada YESUS berkata: “Bagaimana mungkin aku meninggalkan imanku kepada Tuhan YESUS, DIA sudah menyerahkan nyawaNYA kepadaku”, kira-kira begitulah rekaan kalimatnya.

Berkata dibakar berarti berbicara tentang apa yang membakar dan apa yang dapat dibakar.
Mengingat Sodom dan Gomora, maka kita bicara tentang api kekal dari ALLAH yang menghanguskan, mengerikan.
Bicara apa yang dapat dibakar, maka selama ada bahan yang dapat terbakar masih tersisa, maka sampai sisa itu masih ada maka semuanya akan dapat terbakar. Masih akan dibakar.

Pelanggaran-pelanggaran kita masih akan mungkin terjadi meski kita sejak awal telah dipanggilNYA orang kudusNYA. Perbuatan baik kita tidak dapat mempengaruhi pandangan Hakim kepada suatu pelanggaran tertentu.
Segudang perbuatan baik seorang yang ujur, hanya akan berujung kepada pesakitan, penjara, jika beliau melakukan kejahatan kemanusiaan, membunuh misalnya, mencuri misalnya.
Ketidakbercacatan disebutlah itu setia, setia seperti Kristus yang disebut Setia.

Pelanggaran, keberdosaan kitalah yang dilihat oleh API YANG MENGHANGUSKAN itu, dilihat oleh TUHAN.
Kata Yesus: “…Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit…”. Orang yang merasa sehat dihadapanNYA memang tidak akan pernah dapat melihat bagian-bagian dari dirinya yang masih akan dapat dibakar.

Karena DIA senantiasa melihat dosa, pelanggaran kita, dan TUHAN adalah Api Yang Menghanguskan, maka hormatilah DIA. Bersyukurlah senantiasa atas kasih karuniaNYA, yang telah diberikan sejak dahulu.

Jadi tiang garam

Mei 31, 2012 pada 10:13 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: ,

Lagu sekolah minggu….”Jadi tiang garam”, lalu anak-anak akan serentak diam dan mematung.
Terkadang beberapa dari mereka akan menggelitiki teman disebelahnya, bercanda, gembira, senang, bahagia.

Kebalikan dari canda tawa anak-anak tadi, kesedihan, kesalahan, kebobrokan, kekhilafan, dan sebagainya dari masa lalu bisa membuat kita amat sedih, terganggu sangat, … dan kita bisa merasakan penghakiman-penghakiman di dalam hati, kita dituduh ini dan itu…

Seperti menarik beban yang sangat berat, kita berusaha maju, tetapi seolah beban itu menancap kokoh, tidak bisa bergerak dan malah seolah menarik kita ke arah dia.
Seperti itulah ketika kita menoleh ke belakang, melihat masa silam yang kelam,… suatu saat mungkin kita sudah merasakan kemerdekaan, tetapi beban menarik deras, seolah menarik , dan….

Mungkin akan ada cerita kekalahan, bukan lagi canda tawa, bahagia, tawa-tawa kecil, melainkan tangis, keperihan, kepedihan…


Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.
(Kisah Para Rasul 3:19-20)

Lepaskan, itu tugas, lepaskan tali kuk itu, beban berat itu serahkan kepada KRISTUS, DIA yang berurusan dengan itu, kita tidak sanggup kembali ke masa silam untuk memperbaiki kekelaman, mari memandang ke masa depan… berjalan dalam salib Kristus.
Memandang ke depan, melangkah ke depan, melihat terangNYA yang ajaib, terkadang, pada saat-saat tertentu, menginjak kerikil-kerikil kecil, menyakitkan, tetapi ingat sebelum kita mengikatkan kembali tali kuk beban yang berat itu, sebelum kita menjadi tiang garam, ingat ada SALIB KRISTUS yang sudah menjaga kita, pandanglah salibNYA, berjalanlah terus, seperti tidak terlihat, tetapi dalam iman itu jelas dan nyata.

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
(Filipi 3:13-14)

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.
(Lukas 9:62)

Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.
(Kejadian 19:26)

….Anak-anak sekolah minggu dalam ceria bernyanyi: “Jadi tiang garam”.

Setan dan manusia

Mei 30, 2012 pada 9:02 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , ,

Kutipan dari tulisan Rasul Petrus

Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan,
padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah

Kata mereka di atas menjelaskan orang-orang, manusia-manusia yang ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah.
Dan lebih khusus lagi adalah orang-orang yang dikatakan para Rasul sebagai guru-guru palsu.

Terkadang kita langsung mencap guru palsu selalu datang dari pengajaran Iblis, theologinya daru setan-setan, dari malaikat kegelapan. Nyatanya tidak selalu seperti itu, terkadang manusia itu sendiri lebih jahat dari malaikat kegelapan. Manusia ada kecenderungan mengeluarkan theologi-theologi yang sama sekali bertolak belakang dengan theologinya iblis.

Theologi Ayub dengan sahabatnya sudah kita rangkum dalam artikel:
Dialog-para Relijius 01
Dialog para Relijius 02
Dialog para Relijius 03

atau diulas lagi di:
Ketika Theologi kita diuji

Di sini kita akan membandingkan, satu contoh saja, bagaimana theologi dari manusia yang tidak benar di hadapan TUHAN dan bagaimana theologi Setan; Studi kasus dari Kitab Ayub.

Theologi Setan Theologi Orang Salah
Jika Ayub diberkati/dilindungi TUHAN, maka Ayub akan beriman/setia
atau dalam kata lain
Jika Ayub tidak diberkati/tidak dilindungi TUHAN, maka Ayub tidak akan beriman/setia

Jika Ayub beriman/setia kepada TUHAN, maka TUHAN akan memberkati/melindungi
atau dalam kata lain
Jika Ayub tidak beriman/tidak setia kepada TUHAN, maka TUHAN tidak akan memberkati/melindungi

Dua-duanya memusatkan thema kepada TUHAN, jelas sangat relijius, tetapi Iblis langsung menyerang TUHAN yang kemudian berhubungan dengan Ayub, sementara manusia yang salah menyerang Ayub terlebih dahulu baru kemudian berusaha mengendalikan TUHAN.

Kita telusuri Kitab Ayub, dua pandangan, dua jenis thelogia di atas salah kaprah, sesat, ngawur.
Kemungkinan, menurut saya, itulah kenapa Iblis tidak termaafkan sedangkan manusia masih diberi ampunan.
Dan meski demikian dapat kita lihat bahwa pendangan manusia yang salah ada kecenderungan atau tepatnya selalu tidak melulu datang dari iblis secara langsung, bisa saja berasal dari manusia itu sendiri.

Dalam kondisi Perjanjian Baru, maka para Rasul, khususnya Rasul Petrus membuat perbedaan antara setan dan manusia yang salah itu sebagai malaikat dan guru-guru palsu.
Malaikat sendiri tahu sampai dimana ia bebas “bekerja”, sementara guru-guru palsu dengan beraninya menghujat, menghina, meremehkan ALLAH YANG HIDUP.

Kutipan dari tulisan Rasul Petrus…
Tetapi pengadilan untuk menjatuhkan hukuman ke atas mereka sudah lama disiapkan, dan kebinasaan yang sudah ditentukan untuk mereka sedang menantikan mereka

Kita tidak tahu sepenuhnya kenapa manusia bisa salah pilih, dan kita tidak tahu sepenuhnya kenapa manusia memilih yang salah, meski pilihan-pilihan itu masih bisa ada warna pembenarannya, karena tidak mungkin tidak terlihat benar, ada kebenaran tertentu, sampai-sampai dapat dipertahankan bahkan merelakan nyawa…
Tetapi kita masih memiliki tugas untuk mengabarkan INJIL KASIH Kristus, kepada mereka, bukan untuk menjadikan mereka ini dan itu, tetapi karena kita adalah pengikut Kristus, orang yang percaya kepada Kristus.

Aku Percaya

Mei 25, 2012 pada 7:56 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , ,

Credo, ungkapan kepercayaan, persetujuan mulia, perubahan hidup, oleh kebangkitan dari kegelapan kepada TerangNYA yang ajaib.


Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.
(Yohanes 12:27)

Mengaku percaya pada konteks gereja mula-mula identik dengan martir. Martir bukan kondisi rela mati secara serampangan, atau asal mati saja demi sesuatu, meski itu nyata dan pasti. Martir adalah pernyataan konsekuensi dari mengaku bahwa cara Kristus adalah cara benar, sebab DIA adalah Kebenaran.

Ketika hidup pada dunia yang cenderung semakin nyata ke-plurar-annya, semakin berani menyatakan perbedaannya, dan jika ternyata benar TUHAN juga yang sedang mengerjakan itu, supaya semakin nyata bahwa memang cara Kristus adalah cara yang benar, kebenaran sejati. Yaitu ketidaaan pemaksaan kehendak. Negarawan disebut gelarnya dalam konteks pemerintahan.

Tidak ada cara yang paling jitu dalam menyelesaikan masalah ditangan otoriter yang memaksakan kehendaknya, mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu menghempaskannya kepada orang-orang lain yang berbeda pendapat dengan dia, ketika musuh sudah tidak ada maka bebaslah keadaan. Meski sesuatu dapat kita sebut sebagai kebenaran, dan jika kita memaksakannya apakah masih dapat disebut kebenaran? Kita sudah menjadi pembunuh-pembunuh karakter, selangkah dari hasrat ini adalah penghilangan nyawa, sehingga tidaklah menjadi suatu keheranan bahwa dibanyak tempat jika ada pemaksaan pemandangan, di situ darah akan mengalir, tercurah.

Darah Kristus juga tercurah…dari cara pandang yang dipaksakan oleh beberapa yang masih mengaku percaya bahwa Mesias harus begini dan begitu.
Dan kita mengaku percaya kepada Kristus, maka kita juga harus siap kepada curahan-curahan seperti itu, karena memang dunia sedang dalam kondisi tidak dipaksa oleh TUHAN kita untuk berubah.
Jika Kristus datang, turun dari sorgaNYA, untuk menderita, dan ungkapan “Aku percaya”, membuka pintu gerbang yang sama, jalur yang sama, dan…. kepada kemulian yang datang dari BAPA turun atas kita melalui Kristus yang kita puja, puji dan ikuti.

Jika penderitaan di depan mata, jangan terburu-buru berteriak: “TUHAN hancurkanlah musuh-musuhMu itu, kirim mereka ke neraka”. Kalimat pemaksaan kehendak ini telah menempatkan TUHAN pada posisi bawahan kita, yang diperintah-perintah oleh hati nafsu kita sendiri. Camkanlah banyak orang yang tidak mempercayai Kristus melakukan hal seperti itu.

“Aku percaya”,… dan mataku tertuju kepada SalibNYA.

Bukan lagi pilihan

Mei 24, 2012 pada 7:38 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , ,

Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken.
(Filipi 1:1)


Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.
(Yakobus 1:1)

Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
(2Petrus 1:1)

Dari Yudas, hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus, kepada mereka, yang terpanggil, yang dikasihi dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus.
(Yudas 1:1)

Hamba, dalam bentuk singular maskulin disebut doulos. Dalam term duniawinya dapat disejajarkan dengan ‘budak’.
Jika kita membaca Lukas 2:25-32, maka kita temukan seorang yang benar dan saleh bernama Simeon. Ia bernazar semasa sisa hidupnya harus melihat Mesias, Firman Allah yang menjadi manusia. Ketika bayi Yesus dibawa ke Bait Suci, maka Simeon berkesempatan menggendong bayi YESUS, dan beliau lalu berkata:
…..ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,…

Kata hamba di sini sama dengan kata hamba yang digunakan dari kutipan yang lain yang di atas.
Asalnya Doulos.

Dalam term tertentu arti kata ‘hamba’, ‘doulos’ ini biasanya disematkan kepada rasul-rasul, kepada nabi-nabi, kepada mereka yang telah dikhususkan oleh TUHAN sendiri. Minister, petugas, pejuang iman.

Kata kerja dari hamba, pelayan, petugas, pejuang iman adalah melayani.
Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
(Yohanes 12:26)

Barang siapa melayani YESUS, ia harus mengikut YESUS…. dst.
Dalam makna terjemahan lain bisa juga diartikan..
Barang siapa melayani YESUS, biarkan dia mengikut YESUS, karena dimanapun keberadaan YESUS maka di situ pasti ada pelayanNYA, pengikutNYA… dst.

Jika kita mengaku hamba, meyakini itu, dan telah merasakan anugerahNYA, maka…
meski ada kemampuan untuk memilih segala sesuatu, tetapi ada hal yang menjadi keharusan, dan bukan pilihan, yaitu melayani DIA, Kristus YESUS.

Untuk bijaksana dalam sisa hidup kita, selidikilah dalam-dalam, berapa hal yang menjadi keharusan ternyata kita buat seolah menjadi pilihan-pilihan.

Berjuang sampai akhir adalah keharusan, dan bukan pilihan, lalu memilih untuk mengakhirinya secara serampangan?

Memandang Hukum Allah

Mei 12, 2012 pada 10:01 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata:

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.
(Kejadian 3:6)

tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.
(Kejadian 4:5)

Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.
(Ulangan 10:16)

Mendengar hukum, mungkin orang langsung berpikir kepada apa yang bisa dilakukan dan apa yang dilarang.
Bicara apa yang bisa dilakukan dan apa yang dilarang dapat terlihat dari apa yang tampak. Seorang bisa saja mengikuti hukum ini, tetapi adakah jaminan seorang yang melakukan hukum itu berkenan di hadapan ALLAH?
Sebuah contoh berusia ribuan tahun diperhadapkan kepada kita, dahulu kala, jaman manusia pertama ada sebuah kisah yang diberikan kepada kita, demikian:

Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan;
Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,

tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.
(Kejadian 4:3-5)

Kain dan Habel sama-sama melakukan persembahan kepada TUHAN, dan keadaan hati mereka berdua diperlihatkan oleh TUHAN dalam bentuk narasi yang hebat, bahwa Kain meski melakukan persembahan, “gerak-gerik” hatinya dinyatakan dalam bentuk persembahan dan semakin dinyatakan setelah TUHAN langsung menyatakan ketidaksukaannya kepada beliau.

Hatinya manusia bermasalah.

Dalam konteksnya, siapa yang dapat menandingi orang Farisi dalam melakukan hukum-hukum Yahudi?, hukum-hukum agama?, tidak ada, tetapi kenapai mereka pada umumnya tidak bisa mengenal YESUS?

Hati manusia bermasalah.

TUHAN memang memberi hukum-hukum dalam Perjanjian Lama, terutama 5 Kitab Musa,.. dan pondasinya ada pada 10 Perintah Allah.
Dan landasan dari semua perintah itu adalah Hukum Kasih. Hukum Kasih menjangkau hati, dan itulah yang sering tidak dapat dilakukan sepenuhnya, ada bahasa rohaniah di sini.
Kita bisa memberikan sumbangan ke seseorang, sama-sama kita lakukan, tetapi siapa yang tahu keadaan hati yang memberi itu? kemurnian hati adalah kasih yang sesungguhnya.
Dosa selalu dipandang dari motivasinya. Dan motivasi diukur dari apa yang dikeluarkan oleh hati terdalam.

Kitab Hukum Allah mencantumkan perintah yang mungkin sering luput dan kurang dari perhatian jika dibanding dengan hukum-hukum macam besunatlah, berpuasalah, dan sebagainya..

Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
(Ulangan 6:5)

Hukum itu merembes sampai ke hati, atau kalau kita mau lebih jauh lagi kita bandingkan saja ucapan YESUS ini;
Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
(Matius 5:27-28)

Hukum Allah dipandang jauh lebih dalam dari sekedar apa yang dapat dilakukan oleh badaniah kita ini. Menikahi beberapa wanita?, menginginkan seorang wanita lain di hati, itu sudah pelanggaran, itulah hukum hati, hukum rohaniah, hukum yang tidak semata dibebankan kepada tubuh/raga, tetapi juga jiwa dan roh, karena kita adalah tubuh, jiwa dan roh, itu satu paket. Apa yang dilakukan tubuh tidak dapat sepenuhnya diukurkan kepada roh dan jiwa dan sebaliknya dan seterusnya.

Bicara pelangaran hukum berarti sekaligus bicara dosa,…bicara manusia kita bicara bukan saja individu tetapi komunitas, karena kita mahluk sosial… maka perhatikanlah beberapa point berikut ini:
1. Penguasa/pemerintah bisa melakukan dosa dengan perintah-perintahnya.
Bandingkan dengan Raja Daud yang memerintahkan Uriah untuk berperang di barisan terdepan. Maksud perintah itu adalah supaya Uriah mati, dan ia dengan bebas mengambil istri Uriah. Uriah memang tewas, terbunuh oleh musuh di peperangan, ia terbunuh tidak secara langsung oleh Raja Daud, tetapi perintah Daudlah yang mengawalinya. Jadi kita sebagai orang, minimal calon-calon kepala keluarga, hati-hatilah terhadap perintah kita, itu bisa melahirkan dosa.
2. Pelanggaran yang nyata dari seseorang di hadapan kita, sementara kita tidak berusaha meluruskannya, maka kita juga telah menjadi pendosa. Ingatlah peristiwa nabi Eli dengan anak-anaknya. Anak-anak Eli melanggar kekudusan korban persembahan, Eli mengetahuinya, tetapi ia tidak menasehati mereka, dan TUHAN menganggap itu sebagai pelanggaran. Hitunglah pelanggaran yang telah kita lakukan setiap hari, terutama kita yang tinggal di perkotaan, mengerikan bukan?, banyak hal yang membuat hati kita miris, tetapi tidak dapat melakukan sesuatu apapun untuk memperbaikinya.
3. Menyuruh, menasehati atau memprovokasi orang lain bisa juga melahirkan dosa. Ahitofel menyuruh Absalom menghampiri gundik-gundik ayahnya, dan dia melakukannya, maka lahirlah dosa. Melakukan demosntrasi berlebihan kedengaran bisa benar, tetapi hati-hati pada kondisi tertentu kita bisa melakukan dosa, dan bisa membuat orang lain berdosa, bisa saja polisi yang menjaga mengumpat dan penuh amarah karena teriakan kita, dan olehnya dia melanggar hati nurani, dan …. ya kita yang membuat dia berdosa, dan kita harus menanggung itu bukan?
4.Menyetujui pelanggaran orang lain, itu juga pelanggaran kita. Saulus (Paulus), sebelum percaya YESUS KRISTUS, menyetujui perajaman Stefanus, beliau tidak melembar satu batupun untuk membunuh Stefanus, tetapi ia berdiri dipenghakiman itu, dan tidak melarangnya, dia setuju akan hal itu, dan itu adalah pelanggaran, dosa. Kalau kita menghina pemerintah tidak becus, penuh korupsi, sementara kitalah yang memilihnya sewaktu pemilu, artinya bisa saja kita secara tidak langsung setuju dengan cara-cara kotor itu. Itu juga dosa.
5. Memberi contoh yang tidak baik.
Dan banyak hal lain lagi yang dapat kita sebutkan, tetapi 5 buah point itu bisa memberi gambaran kepada kita, bagaimana pelanggaran, dosa, jika dipandang jauh ke dalam hati.

Jika kita mengetahuinya, dan kita sadar sepenuhnya betapa banyaknya dosa yang telah tertumpuk di pundak kita,… maka….
Hukum Kasih Karunia ALLAH akan berharga luar biasa, dan kita akan semakin mengerti Siapa YESUS KRISTUS.

Tidak ada Raja

Mei 5, 2012 pada 7:21 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , ,

Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.
(Hakim-Hakim 17:6)

Di Kitab Mazmur, tertulis demikian:

<b><u>TUHAN adalah Raja</u> untuk seterusnya dan selama-lamanya. Bangsa-bangsa lenyap dari tanah-Nya.
(Mazmur 10:16)</b>

Menyebut DIA YANG MAHA sebagai Raja, TUHAN, mengindikasikan tentang DIA, meski adalah ALLAH, DIA senantiasa hadir dalam setiap liku kehidupan, memberikan jawaban, menyertai, bahkan IA ada bersama kita, Imanuel, dalam ROH KUDUSNYA.

Kutipan dari Kitab Hakim-Hakim di atas adalah berbicara tentang seorang raja, manusia, tetapi jika kita membaca sepenuhnya pasal itu, dan melihat keadaan manusia, maka TUHAN-lah yang pertama ditolak.

Dalam pasal Hakim-Hakim di atas, kita melihat tipikal pelanggaran dari generasi-generasi sebelumnya. Lamekh contohnya membuat peraturan sendiri, mensahkan pernikahan poligami, bahkan mengatur-ngatur hukum, sedemikian di sini, sesuai kutipan, ada seorang yang mengangkat seorang yang lain menjadi imamnya sendiri.

Dari latar belakang status memang seorang yang diangkat itu adalah dari suku Lewi, dan kepada suku inilah keimaman diturunkan oleh TUHAN, tetapi sekali lagi, legalisasi seperti ini selalu ditolak oleh TUHAN, dan diajarkan kepada kita melalui Kitab Suci, sampai sekarang, sampai maranatha.

Dosa selalu dipandang dari perbuatan dengan motive yang menyertainya. Bisa saja orang melakukan segala kebaikan, tetapi jika motivenya tidak benar, itu sama dengan pelanggaran, perbuatannya tidak berarti apa-apa, dan oleh karena itulah TUHAN kita, YESUS KRISTUS, sampai harus tersalib untuk menekankan tentang keutuhan jiwa, raga dan roh. Jiwa dan raga dan roh adalah sepaket, tanpa kesatuannya yang ada adalah kematian, perbuatan melakukan hukum-hukum badaniah tidak akan pernah selalu dapat mempengaruhi keadaan rohaniah kita. Perhatikan Perjanjian Baru, tidak ada satupun hukum-hukum, prosesi-prosesi yang diajarkan oleh YESUS, oleh Rasul,… tetapi semuanya menceritakan tentang kesatuan utuh dari kita dalam menghadap ALLAH Yang Esa. Dan bahkan itu berakar kuat pada Perjanjian Lama.

Ketidaksadaran atas kemungkinan kematian dari salah satu  jiwa dan roh, meski tubuhnya masih bernafas, bisa memungkinkan orang bertidank seperti tidak ada penguasa, Penguasa, Raja atas diri sendiri.

Melihat sejarah, betapa saratnya para pemimpin, para tokoh panutan melakukan kesalahan, bisa membuat kita pesimis, terhadap otoritas tertentu. Gelapnya sejarah gereja sejak Romawi mensahkan agama Kristen sebagai agama resmi bisa sebagai salah satu contoh akurat. Bahkan di awal kekristenanpun dibarengi dengan banyaknya lahir sekte-sekte baru yang sering ditentang para Rasul, karena menolak YESUS Kristus sebagai mana DIA ada.

Dalam kondisi paling dalam, ketidak sadaran atau penolakan kita kepada TUHAN-lah yang membuat kita bisa bertindak penuh salah dan dosa, kita menolak Raja, maka kita merasa sudah tidak menjadi hamba, dan hamba yang sudah tidak merasa dia hamba, mungkin sudah merasa naik tahta, dan orang yang naik tahta, wajar memerintah bak raja.

Setiap orang bebas melakukan apa yang menurut dia benar, melabrak otoritas, atau membuat diri sendiri sebagai otoritas tertinggi.

Pandanan Pascamodernisme terasa baru? terasa asing? TIDAK sama sekali, meski pandangan ini baru saja dikumandangkan, pandangan abad 20?, tetapi gejalanya sudah sejak dahulu kala.

Bukan tidak dapat diaminkan bahwa pandangan ini bisa dianggap masuk akal, melihat sejarah gelap, kebobrokan demi kebobrokan,… tetapi orang yang lahir dari dialektika kehidupan, akan segera terbawa angin, sementara kalau TUHAN masih kita akui, maka warna-warna kehidupan adalah sebagai bukti bahwa IA adalah BENAR.

TIDAK ada raja?

itu adalah teriakan/keadaan dari penolakan bahwa IA adalah RAJA.

 

Dimana orang mengaku Kristen, belum tentu Kristus adalah Rajanya.

Dimana YESUS ditolak, di situ ada kekerasan.

 

 

Berani karena benar, takut karena salah (Salah satu sisi)

April 30, 2012 pada 1:04 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Kaitkata: , , ,

Dalam mengungkapkan atau mengkomunikasikan ide/pikiran biasanya kita gunakan bahasa. Bahasa bisa saja bentuk verbal atau sedikit ke bentuk bahasa tubuh, gerak gerik, bahasa nonverbal.

Dalam interaksi sesama, jelas ada istilah komuni, kebutuhan bersama, dan untuk menjaganya ada hukum-hukum yang menyertai, hukum tertulis dan tidak tertulis.
Dalam beberapa point kita bisa memasukkan norma-norma yang umum diterima, meski tidak tertulis, tetapi ada nuansa kuat untuk menghukum pelanggar dengan etika/moral tertentu.

Komtemporal Jakarta, yang sarat dengan beban kehidupan diwarnai dengan begitu banyaknya manusia.
Jelas terlihat dalam lalulintas, pengendara di jalanan banyak, dan jika kita perhatikan ada norma-norma jalanan, yang tidak terjangkau hukum tertentu, tetapi dijalankan secara bersama, demi kepentingan bersama. Banyak kita lihat di perempatan yang tidak ada lampu merah, beberapa menjaga posisi supaya mendahulukan pengendara yang belok langsung, atau mendahulukan kendaraan yang menaiki tanjakan ketimbang yang turun, atau sebaliknya dan seterusnya dan lain sebagainya.

Timbul suatu keadaan bahwa kompleksitas pengendara terpampang di depan mata kita, senantiasa.
Ributnya jalanan dikumandangkan dengan seruan-seruan klakson, terkadang terkesan tak karuan, garang, membabi buta, bahkan jika dibandingkan dengan budaya Barat sana, jalanan di Jakarta bagaikan praktek bar-bar.

Pemicu (salah satu sisi), adalah…sepanjang hemat saya:
Berani karena benar, takut karena salah

Seorang yang merasa melihat bahasa tubuh si anu melanggar norma tertentu, maka ia dengan praktek legalisme berhak membunyikan klakson, berhak menguasai sisi jalan tertentu, dengan .. ya dengan memamerkan wajah garang, beringas, kesetanan..(hiperbola yang mantap), karena benar, dan ia, atau sehingga ia, menjadi berani.

Bahaya legalisme. Bahaya yang senantiasa ditentang Kitab Suci.

Apaaaaa?

April 28, 2012 pada 7:01 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , ,

Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
(Markus 10:24)

Hampir separuh perjalanan Mesias, Kristus, dalam pelayananNYA kepada murid-murid, murid-murid masih belum paham betul hakekat Kristus, memang Roh Kuduslah yang memberi pengertian, dan Roh Kudus belum akan turun jika Kristus masih di bumi.

Setelah Roh Kudus turun barulah mereka mengingat semua kesalahan pengertian mereka tentang Kristus, kejujuran mereka dalam mencatatkan kesalahan mereka patut dihargai, paling tidak jika kita menganggap Kitab Suci sebagai dokument sejarah.

Murid-murid mengetahui dan sudah mengakui bahwa YESUS adalah Kristus, Yang dijanjikan ratusan tahun silam, dinubuatkan oleh nabi-nabi, oleh pendahulu-pendahulu mereka. Kita dapat mengetahuinya jika kita mundur 2 pasal ke belakang dari kutipan diatas,

Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!”
(Markus 8:29)

Pengakuan ini belum berarti apa-apa jika dalam pengakuan itu ada sesuatu yang tidak searah dengan pengakuan yang benar.
Suatu masa pada awal ‘perekrutan murid-murid’ ada kisah percakapan antara Filipus dan Nathanael.
(bisa dilihat di Yohanes pasal 1)

Filipus:
“Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”
Nathanael:
“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”
Filipus:
“Mari dan lihatlah!”

Di sini ada makna yang dikumandangkan dengan kuat, yaitu “Mari dan lihatlah!”. Kitab Suci tidak mengumandangkan tentang argument, pemikiran dan sejenisnya dalam menjelaskan tentang kepercayaannya, melainkan “Mari dan lihatlah!”, alamilah hidup bersama TUHAN maka lihatlah bahwa DIA adalah TUHAN.
Sedemikian murid-murid, YESUS menjelaskan tentang posisi Mesias bukan dengan penjelasan-penjelasan dogmatis, bukan dengan defenisi-defenisi, bukan dengan kata-kata kosong, bukan dengan dialektika, bukan dan bukan yang lain selain daripada “Mari dan lihatlah!”, murid diajak, lalu “disuruh” melihat apa kesimpulan dari keikutsertaan mereka bersama Kristus.

Sekarang kesimpulan sudah ada, bahwa YESUS adalah Mesias, mereka mengakui, tetapi mereka belum menceburkan diri kepadaNYA.
Itu jugalah perbedaan antara pakar Kitab Suci dengan pendeta-pendeta (dalam term kita disebut hamba TUHAN), pakar cepat dan lugas dalam menjelaskan Kitab Suci, mereka kuat dalam argument, mereka sadar akan itu dan siap bertempur dalam dialog, tetapi belum tentu mereka percaya kepada TUHAN yang “dilihat” dalam Kitab Suci itu.

Petrus, seperti kutipan di atas, seperti itu juga, beliau percaya YESUS adalah Mesias dari beraninya dia ikut bersama YESUS dan dari melihat apa yang YESUS lakukan, itu adalah anugerah, tetapi anugerah itu dibarengi dengan ‘memakukan’ diri kepada Salib, itu harus, bukan pilihan.
Nyatanya untuk memahami bahwa itu bukan suatu pilihan haruslah diawal dari pilihan-pilihan, dan pilihan Petrus kala itu adalah sama seperti pandangan Yahudi umumnya, bahwa YESUS yang adalah MESIAS akan memerintah alam semesta, berpusat di Yerusalem.
Jika demikian maka Petrus yang adalah murid-murid akan menjadi kaya, kenapa kaya? bayangkanlah Raja Daud, atau Raja Salomo, yang terkenal kaya oleh karena gelar Raja di Israel,… jika YESUS adalah Mesias, maka seluruh dunia akan DIA perintah, dan murid-murid akan terkena imbasnya, orang kita bilangnya ‘kecipratan’.

“Apaaaaaa?”
Itulah ucapan refleks jika apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan, jauh dari …. ya jauh dari idealisme kita.

“Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Inilah ucapan YESUS yang membuat murid-murid harus berpikir ulang, merombak idealisme, tentu kita tahu satu dari mereka setelah tercengang, malah tidak lagi mau mengikuti “Mari dan lihatlah!”. Secara daging ia mengikuti tetapi di dalam roh beliau sudah jauh, mau tahu siapa dia? “SaliB” dan “pengkhianat” itulah kata kuncinya.

Kita, Kristen, bisa juga dalam posisi yang sama, berada pada lingkaran, tetapi secara roh jauh di antah berantah, dan bahkan ada kecenderungan pendeta-pendeta, lingkungan gereja, tidak dapat mendeteksi orang-orang seperti ini, TUHAN mendeteksi, jika manusia dipandang sebagai pendeteksi belaka, dan tidak TUHAN, maka kloplah ketidakpercayaan itu, sekali lagi meski ada pada lingkaran yang mengaku Kristen.

“Mari dan lihatlah!”
dan ….
“Apaaaaa”
kata yang sama juga akan terucap jika TUHAN bekerja, dan kita didalamNYA, sebab banyak perkara yang terjadi yang di luar pemahaman badaniah kita tetapi nyata terjadi, dimengerti sepenuhnya oleh rohaniah kita, yaitu TUHAN bertindak.
bayangkan 11 Rasul sontak berteriak: “Apaaaa”, ya ketika mereka akhirnya memahami bahwa Salib, penderitaan adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh Kristus demi keselamatan dunia dan terus berjuang memberitakan makna “Mari dan ikutlah”. Dan 1 rasul yang gantung diri itu setelah berteriak “Apaaaa” di waktu lampau, beliau menyelesaikan teriaknya “Aaaaaaa”, dan mati sia-sia, gantung diri.

Dapat dijelaskan dengan Logika?

April 21, 2012 pada 7:22 am | Ditulis dalam Pemikiran | 2 Komentar
Kaitkata: , ,

Sebuah aliran pemikiran dunia lahir di kira-kira abad ke dua masehi, atau mungkin setelahnya, mereka sekarang dinamai Manikhaisme. Kemungkinan nama aliran ini diambil dari pendirinya, yang disebut-sebut sebagai Nabi Mani. Beliau sangat disanjung oleh kekristenan Timur pada masanya, meski disanjung beliau sangat ditentang oleh Kristen orthodoks, karena jelas Mani sama seperti pendahulu-pendahulunya adalah berupa objek lain yang sering ditentang macam Rasul Yohanes, Rasul Paulus d.l.l, kenapa? Karena Mani seorang gnostik, alisan pengetahuan, aliran yang amat sangat ditentang oleh Rasul Yohanes (sebagai prolog perhatikan surat Rasul Yohanes di 1 Yohanes).

Mani mengklaim dirinya adalah “Roh Penghibur”, Paraclete, yang dijanjikan YESUS, tertulis pada:

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
(Yohanes 14:25-26)

Dengan demikian beliau mengagendakan suatu point, yaitu orang Kristen Orthodoks telah salah mengartikan maksud YESUS, seperti yang tertulis di ayat di atas.

Ketertarikan orang-orang Timur pada pengetahuan yang berbau mistik jelas masih terlihat sampai sekarang, dan pada masa beliua masa keemasan memuncak, sekali lagi beliau dipuja dijamannya, dan mungkin secara sporadis masuh berlaku sampai sekarang, dan ada kemungkinan meski orang tidak mengetahui beliau ada saja orang yang mengikuti cara berpikir beliau.

Salah satu pemikiran beliau adalah tentang dualisme.
Dari sudut pandang Alkitab, pemikiran/doktrin dualisme ini salah. Sederhana saja, dalam perbandingan dualisme didapatkan bahwa permusuhan antara yang Baik dan yang Jahat itu adalah abadi, kekal, terus menerus,…. artinya ada kesetaraan kuasa antara Baik dan Jahat. Ada keseimbangan kekuatan antara ALLAH dengan SETAN…
Jelas itu akan bertentangan dengan syahadat Alkitab, “TUHAN adalah ESA”. DIA ESA, Tidak ada yang lain seperti DIA,

Dalam LAI, Alkitab berbahasa Indonesia dengan kata yang persis sama ditemukan di 6 ayat di Kitab Yesaya, salah satunya…

Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku,
(Yesaya 45:5)

Artinya DIA-lah diatas segala-galanya, Iblis adalah salah satu object yang meski berkuasa, tetapi berada di bawah kendali TUHAN.

Salah satu pemikiran beliau yang menonjol dan disukai di Barat waktu itu adalah… pengetahuan, dalam arti segala sesuatu dapat dijelaskan dengan Logika
.
Jelas karena belia adalah seorang gnostik, kelompok yang menamakan dirinya kelompok pengetahuan.

Sebuah kata dari Eistein:
“Jika praktek tidak sama dengan teori, maka prakteknya yang harus dirubah”

Bisa saja maknanya berbeda, tetapi kalau ditilik dari segi gnostik, maka teori/doktrin dan sebagainya dianggap sebagai pusat dari segalanya, dan untuk membuat teori/doktrin digunakanlah logika yang memadai.
Salah satu buah dari logika itu adalah bahwa Dia, YESUS bukanlah “sosok” manusia badaniah, tetapi murni rohaniah. Tidak ada badaniah yang baik, hanya roh yang baik, dan karena YESUS adalah Baik, maka pasti Dia adalah roh. Ajaran ini tidak asing bukan? sebab sejak jaman rasul-rasul ajaran ini telah begitu diterima di semua daerah romawi.
Kenyataannya YESUS pernah menjadi manusia yang merasakan penderitaan, tangis, ratap dan sebagainya, dan itulah yang ditekankan oleh Rasul Yohanes.

Bagaimana Firman TUHAN yang dalam kemanusiaanNYA memiliki kualitas ALLAH memang susah dijelaskan dengan logika, yang meski dapat dijelaskan secara logika oleh golongan Mani.
Kesusahan menelaah secara logika bukannya tidak terantisipasi oleh Raja Gereja, Kristus, TUHAN mengatakan:

Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
(Yohanes 10:37-38)

Banyak hal yang tidak dapat, mungkin bagi sebagian orang mengatakan, belum dapat dipecahkan, oleh pengetahuan. Bahkan rumitnya perumusan dan pemodelan harus dibantu dengan penyederhanaan disana sini sehingga tercipta rumusan-rumusan matematis yang sederhana. Kita melihat banyak hal yang tidak dapat kita jelaskan dengan kata-kata, mungkin hanya dapat diungkapkan dengan kata: “Wahhhh luar biasa”.
Dalam konteks Alkitab tidak ada kata yang lebih tepat selain kata Muzijat.

Kita menjelaskan bukan tanpa logika, tetapi melandaskan pikiran kita kepada TUHAN, lalu mengarahkan logika itu seperti yang DIA inginkan.
Augistinus berkata: “Percayalah untuk melihat”…kira-kira begitulah maksudnya.

Apa yang ada berasal dari ketiadaan, Creatio Ex Nihilo,…. tidak dapat dijelaskan oleh logika, tetapi
menolak Creatio Ex Nihilo bisa menempatkan diri kita pada Materlialisme (ketiadaan TUHAN adalah salah satu intinya, lihatlah apa yang dikatakan Hawking, fisikawan modern sekarang: “Tuhan tidak dibutuhkan pada terjadinya alam semesta”).

Dapat dijelaskan dengan Logika?
Dapat, sebatas apa yang TUHAN mampukan pada logika kita. Itulah yang saya sebut sebagai pewahyuan. Pewahyuan adalah pemisah kita dari pandangan-pandangan duniawi.
Pewahyuan meletakkan segala kebenaran pada TUHAN, dan menempatkan logika kita pada batas-batasnya.

Artinya, bisa saja kita tidak percaya kepada hal-hal yang diajarkan oleh ALKITAB, oleh TUHAN, oleh YESUS, tetapi sebisa mungkin lihatlah dari apa yang dikerjakan TUHAN.
Analoginya, banyak hal yang kita lihat, meski tidak dapat dirumuskan, bukan berarti apa yang kita lihat itu hanya semacam halusinasi, itu nyata.

Melawan NatureNYA?

April 14, 2012 pada 11:16 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: ,

Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.
(Ibrani 13:12)

Bait Suci dianggap sangat sakral, karena waktu pembangunannya, sekitar abad 8 SM, Raja Salomo diberi janji oleh TUHAN, bahwa Bait Suci akan melambangkan kehadiran TUHAN atas Israel. Di dalam Bait Suci, atau Rumah Tuhan ada sebuah ruangan, disebut Ruang Maha Kudus. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam, hanya orang terpilih dari golongan imam, dan imam sendiri terpilih dari suku Lewi dari puak Harun.

Ruang Maha Kudus di dalam Bait Suci adalah menggambarkan tentang Hadirat TUHAN yang terpisah sama sekali dari segala sesuatu di luar hakekatNYA. Meski demikian dikatakan Imam dapat memasuki Ruang Maha Kudus itu dalam menyampaikan “persembahan kurban”.

Kisah ribuan tahun yang dituliskan Kitab Suci diwarnai dengan turunnya TUHAN secara langsung ke bumi. Peristiwa Eden misalnya, TUHAN langsung hadir, tampil berhadap-hadapan dengan manusia untuk menyelidiki dosa mereka. Bahkan dalam proses penciptaan sendiri, TUHAN tidak menghardik dari TempatNYA YANG MAHA KUDUS, tetapi IA keluar, digambarkan Roh ALLAH melayang-layang di atas permukaan air, dan…. penciptaan alam semesta pun dimulai.

Seterusnya Kain diperhadapkan dengan TUHAN kala ia membunuh adiknya,…. Abraham diperhadapkan dengan TUHAN secara langsung….. seterusnya sampai nabi-nabi,…. rasul-rasul… tidak ada yang tidak berhadapan langsung dengan TUHAN,… TUHAN turut campur, hadir secara nyata.
IA ‘keluar’ dari RuangNYA YANG MAHA KUDUS,…. nature, karakter TUHAN kita,… IA tidak seperti penggambaran filsafat yang disebut individualisme, katanya: “Sekiranya TUHAN ada, maka IA tidak akan mau berinteraksi secara langsung dan nyata dengan manusia”.

Perjanjian Lama, yang beberapa orang Yahudi menyebutnya kitab Taurat, memberi gambaran kepada kita, meski kita bukan dari latar belakang Yahudi, bahwa memang demikianlah TUHAN kita,… ingat di gurun waktu Api menyala dan tidak membakar semak?, ya itulah kesaksian Musa,… TUHAN hadir secara langsung, dan bercakap-cakap dengan Musa.
Ingat bagaimana hukum-hukum bagi Israel? ya semuanya didiktekan secara langsung oleh TUHAN kepada Musa,… ingat Nabi-nabi? semuanya diperhadapkan dengan TUHAN langsung…. natureNYA memang demikian, karakterNYA memang demikian,…. IA terjun langsung,…
Kemahakuasaan TUHAN tidak dapat dibenturkan dengan kesucianNYA, sebab IA ESA.
Dunia memang sudah sekarat, sudah rusak dan ada ketidaksucian, tetapi hey kawan jangan memandang TUHAN dari kerusakan itu, jangan memandang TUHAN dari ketidaksucian itu. Jika kita mengaku TUHAN MAHA KUDUS dan TUHAN MAHA SUCI, maka jika IA melawat ke bumi, tempat yang tidak suci dan tidak kudus, maka TUHAN tidak menjadi takluk kepada keadaan itu.

Ada sebuah perbandingan yang terkenal di Indonesia ketika jaman reformasi bergulir,cerita tentang seorang hakim di kampung maling. Jika lama-lama hakim ini hidup di lingkungan maling maka sang hakim juga akan menjadi maling.
Jika orang baik hidup di Indonesia, maka lama-lama ia akan rusak juga, salah satunya korupsi akan menggerogoti, itulah ceritanya.
Kenapa bisa dipandang begitu? karena kita memandang hakim adalah manusia biasa yang tidak akan pernah luput dari salah dan dosa, sehingga ia suatu saat akan tergelincir. Kita memandang bahwa keadaan lebih kuat daripada sang hakim, suasana lebih perkasa membawa kita kepada kerusakan daripada kita merubah kerusahakan yang ada.
Sedemikian, tetapi TUHAN kita yakini dan percayai Maha KUDUS, Maha KUASA, Maha Suci, maka tidak ada yang dapat mengurangi ke-Maha-an TUHAN meski IA turun ke tempat yang tidak penuh kuasa, tidak suci dan tidak kudus… karena IA MAHA. Percaya bukan IA MAHA?, jika percaya maka jangan pandang keadaan bumi lebih tinggi dari DIA.

Ketika TUHAN berhadapan dengan ADAM, IA bukan menjadi lemah karena IA tidak membunuh langsung Adam karena dosanya,…
Ketika TUHAN berhadapan dengan Saul, IA bukannya menjadi tidak mengasihi karena IA meninggalkan Saul,..
Ketika TUHAN berhadapan dengan Samson, IA bukannya menjadi tidak perkasa meski IA yang memberi kekuatan ke Samson DIA jua yang mengambil kekuatan itu…
bahkan ketika FIRMAN ALLAH menjadi manusia, bukan berarti IA menjadi terkontaminasi dengan manusia itu, ketidakkontaminasian itu dijelaskan dari … Salib. Lihat saja rapat anggoga Dewan di senayan, seorang yang berbicara tidak populer, meski benar, akan disorakin, dipandang sinis,…

Intinya, DIA erat dengan kita, IA ADA, HaYAH…

Untuk menjelaskan ‘keluarnya’ TUHAN dari Ruang Maha Kudus yang sesungguhnya, Rasul Yohanes menulis…
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
(Yohanes 1:5)

Dunia ini digambarkan sebagai kegelapan,… karena memang Iblis, Setan, segala Dusta telah menguasai bumi, kejahatan dimana-mana, melawan TUHAN,… semuanya bentuk pelawanan TUHAN ada di sini, dan meski demikian, kegelapan itu tidak menguasai Firman yang menjadi manusia itu, YESUS namaNYA, karena IA adalah MAHA…
KeadaanNYA sebagai manusia bukan menggambarkan tentang kelemahan Sang Maha Perkasa,
KeadaanNYA sebagai manusia bukan menggambarkan tentang ketidaksucian Sang Maha Suci,
KeadaanNYA sebagai manusia bukan menggambarkan tentang ketidakberdayaan Sang Maha Kuasa,…


tetapi IA “keluar…” untuk tujuan kebaikan kita demi KemulianNYA, sebab YESUS Kristus adalah Imam Agung kita, Imam yang Keluar dari Ruang Maha Kudus, dan masuk kembali dengan membawa Korban tebusan yang mahal, sekali untuk selamanya.

Jika kita mengamini bahwa TUHAN adalah Pencipta, dimana suatu waktu IA tidak mengguntur dari TahtaNYA, melainkan hadir di area kerja alam semesta, maka kita dapat mengimani bahwa IA hadir senantiasa, IA tidak bersembunyi,… dan karena IA senantiasa hadir, IA sering berkata: “Percayalah kepadaKU”.

IA yang ‘keluar”, IA jugalah yang ‘masuk’ ke Ruang Maha Kudus.
Siapa Yang seperti DIA?….
Tidak ada, karena IA ADALAH MAHA ESA.

Paradoks kehidupan rohaniah

April 7, 2012 pada 6:24 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , ,

…..

sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.
(2Korintus 6:10)

perbandingan dari sepenggal kalimat di Korintus di atas sbb:

berdukacita bersukacita;
miskin memperkaya orang lain;
tidak bermilik memiliki segala sesuatu;..

Jika kita mendekat ayat ini dengan kenyataan duniawi, maka selamanya akan terjadi kejungkirbalikan, ketidakbenaran, dan dapatlah kita cap ALKITAB, apalagi tulisan Paulus neh, sebagai bukan firman ALLAH.

berdukacita bersukacita;
Kita tahu yang disebut dengan menderita, sakit penyakit, menangis…
Seorang yang tua sakit-sakitan, yang saya kenal, tidak dapat lagi bersukacita, karena begitu banyak penderitaan yang dia rasakan. Apakah itu wajar? sangat wajar, bagaimana seorang tidak meringis kesakitan jika ia baru saja terjatuh dan terluka parah, mungkin menjadi aneh kalau ia tidak menderita, mungkin sejenis keturunan Gatot Koco,…
Jadi hukumnya adalah seorang yang sangat menderita, yang diterjemahkan berdukacita, pastilah tidak menyengir sedikitpun, paling tidak meneteskan air mata…alias tidak dapat bersukacita…berduka ya berduka, itu tidak dapat bersuka..

miskin memperkaya orang lain;
sekali lagi dengan kaca mata duniawi, ini masih masih kategori tidak masuk akal, bertolak belakang, tidak mengikuti hukum dasar….
Bagaimana orang yang miskin bisa memperkaya orang lain? orang kaya dinilai dari apa yang dia miliki, contohnya. Bagaimana ia bisa memiliki dari pemberian dari seorang yang miskin, yang tidak memiliki apa-apa?….

Penjelasan begini memampukan kita melihat posisi kita, yaitu orang yang tidak rohaniah, orang yang tidak dilahirkan dari ROH…

paradoks pa.ra.doks
[n] pernyataan yg seolah-olah bertentangan (berlawanan) dng pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks

Ya penjelasan di atas akan menjadi kebenaran kalau kita lihat secara rohaniah..

Rasul Paulus memberitakan Injil, beliau sangat menderita, dipenjarakan, dipukuli, dikejar-kejar orang Yahudi untuk dibunuh, dibenci oleh pengajar-pengajar palsu,…. dan sebagainya, dan disalah mengerti oleh sesama seiman, dan banyak list lanjutan yang tidak perlu kita perpanjang, yang pasti beliau sangat menderita, penuh dukacita,…bukannya tidak menangis, beliau menangis, meraung, tetapi… meski beliau semenderita ini dan tidak ada diantara kita, paling tidak yang membaca blog ini, semenderita beliau, tetapi ucapan-ucapan yang dipakai oleh ROH KUDUS dalam tulisan beliau telah menghibur kita, telah menguatkan kita, telah memperkaya kita dalam pengenalan dan dalam hidup bersama Kristus.

Jadi dalam tubuh beliau berdukacita, menderita benaran, tidak kebal, tetapi rohnya penuh sukacita.
Kita sadar sesadar-sadarnya adalah manusia bertubuh, tidak kebal terhadap segala penderitaan karena kepercayaan kita kepada TUHAN SEMESTA ALAM, kita tidak kebal terhadap penderitaan, tetapi meski kita menderita, roh kita senantiasa satu dengan DIA YANG HIDUP, olehNYA kita bersukacita, penuh pengharapan.
Kita tahu kita terluka, tetapi pengharapan kesembuhan ada, kesembuhan dari DIA.
TUHAN bukanlah jimat kebal, Kristus membuktikan itu.
TUHAN tidak dimeditasikan untuk mendapatkan ‘kekebalan’..
TUHAN mengharapkan kesembuhan rohaniah, supaya apa yang dialami tubuh, daging, raga kita ini tidak membuat kita binasa,…sebab “semangat yang patah mengeringkan tulang”, jika kita patah semangat, dan sering terjadi, tidak dapat kita elakkan,…atau paling tidak akan dialami oleh kita,…sekali lagi, kita tidak menjadi kebal dari itu semua, … meski kita beriman kepada TUHAN YANG MAHA KUASA… iman kita bukan sejenis kekuatan yang disematkan dipinggang (merujuk jimat yang umumnya diikatkan dipinggang), tetapi sebuah pengharapan akan penghiburan.

Nyatanya banyak pendeta yang saya kenal, yang miskin, yang tak memiliki apa-apa, tetapi mereka telah memperkaya banyak orang-orang yang sebagian besar kaya, dengan kekayaan sorgawi, kekayaan yang tidak dapat ditemui dimanapun selain dari DIA, dan yang umumnya yang kaya justru yang memiskinkan jemaat.

note:
kaya/miskin (yang bold)=kaya/miskin rohaniah
kaya/miskin (yang tidak bold) = kaya/miskin duniawai

Yang ada padaku untuk persembahan

Maret 22, 2012 pada 11:27 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , , ,

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita?
Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?
Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu;
dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.

Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya.
Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.
(Matius 15:1-6)

Meski dialog ini sederhana tetapi ada makna yang banyak dapat kita telusuri, salah satunya adalah bahaya legalisasi.
Contohnya sudah jelas di atas, yaitu, singkat dan sederhannya begini,
Seorang penganut Farisi, yang ketat dalam hukum dan peraturan agama, rajin memberi sumbangan berupa persembahan kepada Allah. Dan kemungkinan mereka berlomba-lomba dalam hal jumlah dan intensitas, beberapa dari mereka malah ada yang mengejar nama, supaya terlihat kaya dan wah, maka jumlahnya ditunjukkan. Bandingkan dengan seorang nenek tua yang hanya menyumbangkan 2 keping uang rendahan, tetapi YESUS bilang harganya jauh melebihi sumbangan seorang kaya.
Persaingan itu kesannya bagus, demi persembahan, disumbangkan ke Bait Allah disamakan dengan pemberian ke TUHAN, betapa mulianya, betapa indahnya,… tetapi…
Perlombaan itu menyisakan jejak yang tidak sedap, sanak saudara mereka justru tidak dipikirkan, tidak dijaga,…

Menyumbang adalah satu hal, mengasihi saudara adalah satu hal lain, tetapi kalau keduanya tidak diikat dalam satu kesatuan kasih, maka itulah yang terjadi, salah satu dilegalkan untuk mengilegalkan hal lainnya. Saya sudah mengasihi TUHAN jadi tidak perlu lagi mengasihi manusia lainnya, itulah puncaknya.

Bagaimanakah seorang menghormati ayah dan ibunya jika dia sudah menghormati Allah sepenuhnya? mungkin itulah pertanyaannya, dari segi legalisasi.
Dalam hal ini Farisi melahirkan adat istiadat sebagai penopang hubungan antara sesamanya dan cenderung lebih tinggi nilainya dibanding hukum Tuhan.
Contohnya begini, seorang orang tua memiliki sahabat karib, dua-duanya perokok berat. Salah satu anak mereka membutuhkan uang sekolah, dan memohon uang ke orang tua perokok tadi. Tetapi karena sahabat ini lebih tinggi dan dianggap lebih perlu, maka uang tadi ia pergunakan buat membeli rokok, uang sekolah itu nanti saja.
Itulah yang terjadi pada Farisi di atas, karena merasa sudah dekat sekali denan TUHAN, dan oleh karena itu hal lainnya dianggap tidak perlu. Padahal hukum yang mendasari seluruh hukum adalah silang mengasihi ALLAH dan mengasihi sesama.
Itu juga akan terjadi dengan orang-orang yang cenderung merasa lebih dekat kepada Allah, tetapi gagal dengan hubungan sesamanya, mereka akan seperti beberapa Farisi itu, dikecam oleh YESUS, karena biasanya mereka ini tidak akan segan-segan lagi untuk menghakimi, untuk mengkafirkan orang lain dan sebagainya.
Hubungan sesama ini selalu ditarik ke hubungan tingkat mendasarnya yaitu hubungan di keluarga.

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
(Efesus 6:1-4)

Seorang anak akan menjadi orang tua juga kelak, dan mereka akan terdidik sebagai orang tua yang baik dan benar jika pada masa anak-anaknya mereka menghormati orang tua yang terdidik dan hidup dalam keadaan yang baik pula. Dimana keadaan itu diikat di dalam TUHAN. Dua-duanya terikat sempurna, karena yang mengikat adalah Yang Sempurna, tanpa bergerak dari apa yang sanggup kita berikan.
Farisi bergerak dari apa yang sanggup dia berikan, maka ia sanggup memberikan persembahan yang banyak, dan karena sudah memberikan jumlah yang banyak maka ia sudah tidak sanggup lagi memberikan untuk keluarganya sendiri, dan karena Allah dianggap lebih penting, maka yang lainnya menjadi tidak penting lagi.
Tetapi Roh Kudus dalam hikmat Paulus telah menyempurnakan pengetahuan kita, bahwa kita harus bergerak di dalam Tuhan, melihat apa yang sanggup Tuhan lakukan, dan kita mengikuti jejakNYA.
YESUS adalah Tuhan, mengasihi ALLAH dengan setia mengikuti apa yang Bapa suruh/lakukan, dan sekaligus mengasihi manusia bahkan sampai rela mati. Dasarnya adalah Tuhan, YESUS diutus dan mengikuti semua yang Bapa inginkan, sekaligus melepaskan kehendakNYA demi kasih kepada manusia,.. terikat sempurna dalam simbol salib yang kasar tetapi menggema itu.

Sebagai Kristen abad ini, mungkin kita harus belajar, bahwa pengumpulan uang yang wah dan banyak hanya demi membangun rumah ibadah, gereja, terkadang membungkam kita, menutup mata kita, kepada banyaknya saudara kita sendiri yang terlantarkan, diterlantarkan karena pilihan.
Bukan berarti membangun rumah ibadah tidak bisa atau tidak boleh, yang menjadi masalah adalah ketika pilihan dikedepankan, maka pilihlah sesuatu yang bijaksana, ikatlah kasih ke ALLAH dan kasih ke sesama adalah dasar dari segala hukum, dan tidak ada yang menentang kedua hukum ini.

Yang ada padaku, semuanya, untuk persembahan, persembahan kasih yang tertancap dalam model SALIB, ke Atas dan ke sesama.

Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”
(Markus 12:42-44)

Ketika theologia kita diuji

Maret 16, 2012 pada 8:44 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 13 Komentar
Kaitkata: , , ,

Mengenai dialog Ayub ada 3 kali dibahas di blog ini;
Dialog-para Relijius 01
Dialog para Relijius 02
Dialog para Relijius 03

Theologia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Theos(TUHAN) dan Logia (firman), jadi sederhananya Theologia adalah Firman-firman TUHAN atau ucapan-ucapan TUHAN.
Theologia sendiri sudah menjadi cabang pengetahuan tersendiri, sehingga banyak arti yang bisa diambil dari kata ini, beberapa orang berkata Theologia adalah dialog pemikiran yang berhubungan dengan TUHAN, ada juga tentang ilmu pengetahuan tentang yang ilahi.

Dalam term sederhana saya, kata theologia dalam judul di atas sebagai “Pemahaman kita tentang TUHAN”.

Dari tiga judul dialog di atas kita temua adanya pemahaman-pemahaman yang berbeda, meski TUHAN YANG ESA-lah yang diucapkan dan dibahas.
Singkatnya begini, sahabat Ayub berpendapat, atau memandang TUHAN itu samat adil, dimana letak keadilan itu dapat dilihat dengan nyata pada kehidupan kita. Sampai di sini mungkin masih dapat kita terima. Pengejawantahan keadilan itu dalam kehidupan itu, itulah yang kemudian membedakan sahabat Ayub dengan Ayub sendiri. Sahabat Ayub berpikiran bahwa penderitaan Ayub disebabkan oleh kemungkinan pelanggaran Ayub atas hukum-hukum TUHAN. Pemikiran ini dapat didasarkan pada thema “TUHAN pasti menolong hamba-hambaNYA dan melimpahkan mereka berkat”, atau “TUHAN mengganjar orang sesuai dengan kelimpahan jika ia taat”.
Logikanya begini, saudara akan berbuat baik kepada seseorang, karena seseorang telah lebih dahulu berbuat baik kepada saudara.
Jadi TUHAN membuat Ayub berkelimpahan dengan harta dan kebahagian karena Ayub telah berbuat segala kebaikan dihadapan TUHAN, itulah theologia sahabat-sahabat Ayub.
Dan lebih jauh lagi ke dalam, salah satu dari mereka malah berkata..
“Mungkin penderitaanmu ini masih sebagian kecil dari hukuman yang akan datang, hukuman ini masih kecil karena TUHAN Maha Penyayang, jadi akuilah dosa-dosamu dihadapanNYA”.
Bayangkan penderitaan Ayub, beliau dalam sehari langsung kehilangan semua harta bendanya, bahkan anak-anaknya mati seketika, ia jatuh miskin, borokan, bau,…dihujani tuduhan-tuduhan, disalah mengerti sahabatnya,….bahkan istrinya mulai memarahi beliau, penderitaan apa lagi yang lebih ngeri dari itu? kata sahabatnya itu masih tidak seberapa, masih terlalu kecil, karena TUHAN masih menahan penderitaan yang lebih besar, karena IA MAHA PENYAYANG.
Beliau berkata begitu masih berangkat dari pemikiran bahwa Ayub telah melakukan kesalahan di hadapan TUHAN. Artinya dalam sisi positif, TUHAN akan selalu memberi berkat, bagi orang-orang yang melakukan kebenaran. Jadi karena Ayub menderita, maka dipastikan TUHAN tidak sedang memberkati, dan kenapa tidak diberkati? karena Ayub pastilah pendosa berat.

Dalam akhir kisah dari kitab Ayub, kita ketahui theologia sahabat-sahabat Ayub adalah salah besar.
Thelogia Ayublah yang benar. Pembuka kitab Ayub dapat kita lihat bagaimana iblis membeberkan pemikirannya.
“Karena ENGKAU menjagai Ayub, memagarinya, maka ia taat kepadaMU”, itu tuduhan iblis, jika kita perhatikan tuduhan itu, sama persis dengan sahabat Ayub.

Renungan kita adalah meski yang kita membicarakan TUHAN ALAM SEMESTA, tetapi bisa jadi pondasi pemikiran kita itu sama dengan pondasi si Iblis, si Ular Tua.

TUHAN dalam MAHA BIJAKSANA mengijinkan Iblis membuktikan sendiri tuduhannya, dan ternyata … tak satupun penderitaan Ayub yang sanggup menggoyahkan percayanya kepada TUHAN. Tuduhan tak mempan.
Kenapa? karena Ayub memiliki theologia, pemikiran yang benar, yaitu Yang paling berharga adalah hubungan dengan TUHAN. Ketika harta dan anaknya semua lenyap, apa yang ditangisi Ayub? bukan hartanya, tetapi bagaimana hubungannya dengan TUHAN. Ayub diam seribu bahasa bukan menangisi penderitaanya, tetapi menunggu hadirat TUHAN. Sehingga ketika TUHAN datang sendiri kepada Ayub, apa yang terjadi? apakah TUHAN menjawab semua pertanyaan Ayub? TIDAK, justru ada kesan bahwa TUHAN malah yang balik menanyai Ayub, tetapi meski TUHAN tidak menjawab satupun pertanyaan Ayub, dan malah menjelaskan siapa TUHAN sebenarnya, kenapa Ayub puas? kenapa Ayub senang?, karena yang beliau tunggu adalah hadirat TUHAN sendiri, hartanya yang paling berharga, ia tahu TUHAN tidak menjauh dan meninggalkan beliau.

Sekitar tahun 60-Masehi, theologia Rasul Paulus juga dipertanyakan. Jemaat pertama yang menerima Kristus dalam kerasulan Paulus diperkirakan adalah Jemaat di Galatia. Jemaat di Galatia sering dibina dan dibimbing oleh penatua-penatua dari Yerusalem. Karena itulah kejadiannya, bahwa setiap jemaat di luar Yerusalem, akan selalu mendapat kunjungan dari penatua-penatua, soko guru, murid-murid awal, Rasul-Rasul lain, bisa jadi diantaranya adalah Rasul Petrus, Rasul Yakobus, Rasul Yohanes, dan lainnya.
Dari sekian penatua yang datang dari Yerusalem adalah mereka yang datang dari latar belakang Yahudi yang ketat. Mereka ini berceramah di Galatia, lalu memberi pemikiran begini :”Kalian akan sempurna keselamatannya jika kalian mematuhi hukum-hukum agama Yahudi, hukum taurat”, dan bahkan dikatakan jauh lebih dalam lagi: “Kalian akan beroleh selamat jika kalian mematuhi hukum taurat”.
Mungkin pondasi pemikirannya jelas, yaitu bahwa seorang yang taat kepada ALLAH tentunya adalah seorang yang mematuhi perintah dan larangan TUHAN, perintah dan larangan itu adanya di taurat, jadi selamatlah kita jika kita melakukan hukum taurat. Selidiki kata dan pemikiran ini, itu identik dengan pemikiran sahabat Ayub, polanya sama. Intinya saya berbuat baik karena Anda berbuat baik kepada saya. Hukum jual beli. Rasul Paulus melandaskan pemikirannya pada fakta yang terjadi, ia berkata :”Hey penduduk Galatia, katakan kepada saya, apakah kalian menerima ROH KUDUS ketika kalian telah melakukan Taurat, atau ketika kalian percaya kepada YESUS?”. Ingat penduduk Galatia yang disebut Rasul Paulus adalah penduduk yang tidak satupun tunduk sepenuhnya kepada Taurat, orang Yahudi mengatakan mereka itu adalah kafir, tadinya kafir. Jadi Roh Kudus turun kepada orang percaya jauh sebelum mereka mengenal satu titikpun hukum taurat.. relasi, hubungan, hadirat TUHAN datang sebelum mereka tahu hukum larangan dan perintah TUHAN, jadi jangan terbalik, jangan menjadi bodoh, ingat Abraham dikatakan TUHAN sebagai orang benar bukan karena hukum taurat karena hukum taurat belum ada, tetapi ia dikatakan benar karena imannya, itulah thelogia Paulus, itulah pemikiran Paulus.

sekali lagi..

Renungan kita adalah meski yang kita membicarakan TUHAN ALAM SEMESTA, tetapi bisa jadi pondasi pemikiran kita itu sama dengan pondasi si Iblis, si Ular Tua.

Seperti Paulus/Ayub melandaskan thelogianya kepada Alkitab, juga orang-orang yang berlawanan dengan mereka, tetapi sekali lagi hubungan kita dengan TUHAN akan dominan mewarnai perbedaannya.

Lebih masuk akal yang mana?

Maret 14, 2012 pada 9:10 am | Ditulis dalam Pemikiran | 2 Komentar
Kaitkata: , , , , ,

Dari segi pelajaran teks, maka jaman Ayub disejajarkan dengan jaman Abraham. Bicara nubuat tentang Mesias kita disuguhi suatu keadaan dari diri Ayub perihal Mesias,

<b>Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.
(Ayub 19:25-27)</b>

Ayub begitu rindu dan merana karena rindu itu. Merana karena rindu ini dapat digambarkan seperti seorang suami istri yang jarang ketemu, atau sepasang kekasih yang jarang ketemu, atau seorang yang ingin pulang kampung setelah merantau puluhan tahun, atau hal lain yang memang nyata ada, dan ia belum dapat memenuhi keadaan supaya ia dapat melihat yang ada itu, dimana yang nyata ada itu sangat ingin sekali ia lihat. Keinginan yang berat tetapi belum dapat kesampaian, itu membuat merana.

Jika para ahli berkata Abraham sejaman dengan Ayub, maka setelah kira-kira ribuan tahun berikutnya Penebus itu memang hidup, dan bangkit dari debu, dan kerinduan Ayub tetap tidak kesampaian karena beliau sudah lama mati, sudah lama menjadi debu (menggambarkan usia menjadi di dalam keadaan mati).

Posisinya adalah mungkin kita sama keadaannya dengan Ayub sekarang, yaitu menanti kedatangan Penebus keduakalinya. Janji YESUS memang begitu, bahwa IA akan datang kembali, tetapi bukan lagi seperti kedatangan yang pertama, melainkan akan datang dalam kemuliaan BAPA.

Tidak ada manusia yang percaya di dalam TUHAN YESUS sekarang ini yang tidak rindu akan hari itu.

Tetapi mari kita balik melihat ke masa lampau, setiap Kristen masa kini, yaitu orang-orang yang percaya di dalam Nama TUHAN, pasti ada keinginan berada pada masa YESUS, di kisaran Palestina sekarang ini. Melihat YESUS mengajar, membimbing… atau menyaksikan YESUS melakukan mujizat-mujizat,… pasti menyenangkan. Menjadi pengalaman yang dinginkan sekali, sekiranya, begitulah keadaannya.

Kita memang tidak dapat lagi kembali kesana. Yang kita lihat kenyataannya adalah mayoritas orang pada masa itu menolak YESUS.

Banyak hal yang diceritakan Kitab Injil mengenai penolakan itu. Jadi kalau kita berada pada masa itu, kemungkinan besar kita juga akan menolak YESUS, kerinduan kita, Kristen masa kini, berada pada masa itu adalah dikarenakan kita sudah di dalam keadaan percaya. Sama seperti Ayub, kerinduan dia yang kuat akan Penebusnya adalah karena ia sudah percaya.

Penolakan kepada YESUS dikomandoi oleh ahli-ahli agama, ahli Taurat, ahli Kitab Suci, imam-imam, kenapa bisa begitu?

Banyak point yang bisa kita ucapkan, tetapi saya menyebutkan hanya satu, yaitu YESUS itu tidak masuk akal dalam ranah/logika/tafsir mereka.

Suatu kampung di tanah Batak sana, didiami oleh orang-orang yang ketat dengan adat. Si mertua laki-laki sakit, dan akut dalam kesendirian, maka sangat tidak masuk akal jika menantu perempuannya yang merawat dia, itu diluar kebiasaan adat istiadat. Orang Batak lainnya akan berkata: “Ndang maradati” (Tidak taat adat dia itu), atau dalam term orang Jakarta disebut: “Tidak masuk akal tuh perempuan yee”. Bagi kita apa salahnya menantu perempuan merawat mertua laki-lakinya bukan? bagi kita itu tidak masuk akal kalau ada keadaan seperti itu, itu aneh menurut kita bukan? Tetapi bagi adat Batak, justru seorang menantu perempuan tidak masuk akal merawat mertua laki-lakinya.

Banyak paradoks-paradoks seperti itu kita temui.

Ketika YESUS dianggap melabrak sabbat, maka kaum Farisi berkata: “Kamu wahai YESUS, tidak masuk akal, mengaku Yahudi tetapi tidak mentaati hukum sabbat”. (penekanan penulis saja).

Banyak hal yang menurut ahli agama tidak masuk akal, tidak sejalan pikirannya dengan YESUS. Menurut mereka Mesias akan membawa kemenangan gilang gemilang, justru Mesias ini disalibkan.

YESUS memang tidak masuk akal, tetapi oleh ketidakmasukakalan mereka itu, kita beroleh anugerah.

Ketika ahli agama berkata hanya Taurat satu-satunya jalan, YESUS malah berkata: “Hanya AKU, YESUS, satu-satunya jalan ke Bapa”.

Dari pandangan kita sebagai manusia, maka apa yang dapat kita setujui, itulah yang masuk akal bagi kita. Karena apa yang dapat kita setujui cenderung diolah oleh pikiran, maka hati-hatilah, bisa jadi apa-apa yang masuk akal bagi kita, ternyata adalah suatu ketidakmasukakalan bagi TUHAN. Seperti ahli agama waktu itu, mereka berkata: “Sangat masuk akal seorang tidak dapat lagi membantu saudaranya yang sakit yang sedang membutuhkan uang, karena ia sudah menyumbangkan uangnya ke Bait Suci”. Karena memang ada hukumnya Bait Suci harus dijaga dan dipelihara, dan itu membutuhkan uang, dan ada pula tertulis “perpuluhan adalah kunci berkat”, atau membantu pembangunan Bait Suci, tempat ibadah akan mendapat keuntungan/balasan dari TUHAN, itu hal-hal yang disetujui sehingga masuk akal, tetapi Rasul Yohanes menceritakan: “Siapa yang tidak perduli kepada saudaranya, lebih buruk dari orang murtad”.

Sekarang pilih, lebih masuk akal mana…

“Seorang menjadi baik karena melakukan hukum?”, atau “Seorang melakukan kebaikan, karena memang ia baik?”.

“Sebongkah emas akan tetap menjadi emas?” atau “Sebongkah tembaga dilapisi emas akan menjadi emas?”

Seorang tidak dapat menjadi baik meski ia melakukan hukum-hukum agama,

tetapi

Seorang akan menjadi baik, jika DIA YANG BAIK ada di dalam hatinya, ia menjadi sumber.

 

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.