Murid atau guru yang salah?

September 22, 2009 pada 6:17 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: ,

Tidak akan sulit menemukan pengajaran-pengajaran yang menyimpang.
Yang menjadi sulit adalah, ketika kita menemukan orang-orang yang tulen sangat “suci”, sangat “awam”, sangat “ingusan”, sangat polos di dalam menerima pengajaran.

Mungkin sulit ditemukan di belahan dunia lain, tetapi saya bisa melihat di negaraku sendiri, bahwa banyak orang polos yang meneruskan apa yang gurunya ajarkan, gurunya ketahui, tanpa berani mengujinya. Banyak alasan tentunya untuk tidak berani mempertanyakan hal-hal. Tetapi ketika pertanyaan kita berujung kepada hidup, berujung kepada kesejahteraan maka ujian itu akan semakin sulit untuk dijawab.

Yang menjadi fokus saya adalah… bagaimana orang-orang yang sedemikian ini?, apakah mereka menjadi hitam karena hitamnya sang guru? atau apakah “Ujilah segala sesuatu” adalah menjadi pelanggaran yang mereka ingkari?

Ah Tuhan, sekiranya Engkau mau memasuki hati semua orang. Menjadi Guru kepada kami, di dalam RohMU yang menuntun.

Yesus, manusia yang diperilah?

September 22, 2009 pada 6:06 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 9 Komentar
Kaitkata: , , ,

Yesus, pernah hidup lebih kurang 33 tahun sebagai manusia di dunia ini.
Walau Perjanjian Baru menjelaskannya dengan baik, tetapi kisah-kisah sejarah tentu lebih disenangi orang-orang tertentu, sehingga kelihatan lebih universal. Kisah yang hilang dari suatu umur tertentu sampai genap ke umurNya ke-30 juga turut membuat keramaian.

Konsep-konsep tentang Yang Kudus terkurung di dalam daging tentu sangat salah.
Konsep-konsep tentang Roh juga salah, sebab dijelaskan, Ia adalah manusia. Ia menjadi manusia, punya daging, punya roh dan punya jiwa.

Selama 33 tahun Ia adalah manusia.
Tetapi manusia yang bagaimana? inilah pertanyaannya.
Awam mungkin sangat bingung dengan pembacaan Perjanjian Baru, sebab dituliskan Tuhan, Tuan,.. Yesus adalah Tuhan. Bagaimana mungkin Yang Maha Kuasa menjadi lemah, terlalu munusiawi.
Bingung karena tidak dapat menerima bahwa Perjanjian Baru sudah ditulis setelah kebangkitan YESUS atau tepatnya setelah YESUS sudah naik ke sorga. Penjelasan dan theofani yang Agung telah dituliskan di dalam peristiwa penampakan-penampakan YESUS setelah kebangkitan dari kubur. Ia bisa makan makanan manusia, daging, dan Ia bisa berada di mana-mana, Roh. Terlebih Ia terangkat ke atas, yang digambarkan sebagai sorga, ya sorga digambarkan di atas, bukan di bawah, di bawah adalah kematian.
KebangkitanNYA adalah, Ia sudah tidak merasakan penderitaan, sudah tidak merasakan sakit, Ia sudah tidak merasakan kematian lagi, sebab IA sudah dalam keadaanNYA yang berkuasa, Ia hidup sampai selama-lamanya. Daging yang bangkit itu bukan lagi daging yang 33 tahun sebelumnya.

Terlebih para pendahulu iman kita adalah manusia yang ber-shema :”Shema Yishrael, Adanoi Eloheinu, Adonai Echad”, mereka akan menjadi pembangkang-pembangkang, perusak, jika mereka menyembah ALLAH selain Sang Adonai. Tetapi pahamilah mereka-mereka ini meluruskan pandangan, mewariskan ajaran, kepada kita, bahwa Sang Adonai-lah yang telah mereka lihat, yang telah mereka saksikan, yang tadinya mereka ragu, sekarang sudah nyata Kasih-Nya. Theofani yang luar biasa, Theofani yang dirindu-rindukan oleh para nabi.
Yaitu penampakan SANG KUASA dalam rangka memperdamaikan seluruh manusia dengan ALLAH.

Dan karena Yesus adalah Sang Adonai, maka kepada DIA-lah segala hormat dan kemulian dari sekarang sampai selama-lamanya.

Hati-hatilah terhadap pengajaran-pengajaran, ujilah segala sesuatu.
Ini ada beberapa contoh pengajaran itu,
1. bahwa Yesus yang lain sudah ada, yaitu Mesias, Penolong buat bangsa yang bukan Israel, karena Yesus yang pertama tadi hanya utusan bagi Israel, maka inilah Yesus buat dunia yang lain.
2. pengakuan Yesus telah datang ke dua kali.
3. dan lain sebagainya, rupa-rupa memperilah orang-orang yang dianggap kudus.

Ya, Yesus telah pernah menjadi manusia, 33 tahun, karena IA harus menjadi manusia untuk menebus manusia.
Tetapi tambahkan jugalah dengan rendah hati ke dalam perbendaharaanmu, bahwa Yesus yang sekarang yang kita kenal adalah YESUS yang HIDUP sampai selama-lamanya.

DIA adalah Yang Awal dan Yang Akhir.

Karena tidak percaya

September 22, 2009 pada 11:14 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata:

Perbedaan akan semakin nyata, kalau kita semakin mendalam dalam hal “perkenalan”.
Kehidupan memang bukan persamaan-persamaan matematis yang bisa dengan mudah kita ketok salah dan benar.
(walau dalam sebagian orang itu tidak mudah).

perhatikanlah “permainan” berikut:

(x+x)*(x-x) = 0 ……………..(1)
penyelesaian pertama:
(2x)*0 = 0 ….. selesai, artinya berapapun x, kalau dikali dengan nol hasilnya akan tetap sama dengan nol.

tetapi ada orang yang mengetahui suatu hal akan menyelesaian berikut (walau secara logika itu bisa):
(2x)*0 = 0
dengan pengetahuan, bahwa “sesuatu” dibagi dengan “sesuatu” itu adalah sama dengan satu, sehingga dicoba menjadi
(2x)*0 = 0
(2x)*(0/0) = (0/0)
sehingga
2x = 1
x = 1/2

Meskipun x = 1/2 di-subsitusi ke (1) tetap menghasilkan 0, tetapi ada kesalahan fatal, yaitu memaksa bahwa hanya 1/2 yang pas dengan persamaan (1) di atas dan kesalahan ke dua adalah memaksakan suatu penyelesaian terhadap sesuatu yang sudah selesai, dan yang pasti yang ke tiga adalah penerapan hukum yang salah.

Dengan mengabaikan kesalahan-kesalahan di atas, 1/2 adalah jawaban, itu benar, tetapi jawaban yang benar dan lengkap adalah “bukan hanya 1/2″.
Berapa “bukan hanya 1/2″ ?, semua angka real termasuk 1/2. TITIK.

Sekarang kalau ada yang mempertahankan 1/2, apakah kita bisa salahkan? Tentu tidak.
Jawaban dia adalah satu per tak terhingga dari jawaban yang sebenarnya, sama dengan nol, artinya bisa diabaikan, tetapi jawaban ini tetap menjadi jawaban yang benar.

Karena aku tidak percaya kepada hukum tertentu, sehingga 1/2 menjadi jawaban paling mutakhir, dan harus dipertahankan, itu lain hal.

Sehingga dengan mengetahui “si keras kepala 1/2″, di dalam hati kita bisa mengetok palu, tanpa harus menghakiminya, bahwa si dia belum paham apa yang ia perbincangkan.

Syukur kalau dia bisa menerima “bukan hanya 1/2″, menerima bukan berarti dia menjadi bagian dari mengetahui, tetapi menjadi bagian dalam mencari duduk masalah.

Orang percaya kiranya semakin dalam dan semakin dalam menelusuri betapa dalamnya, tingginya, dan luasnya kasih TUHAN.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.