Mencari TUHAN

Agustus 27, 2009 pada 3:18 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: ,

Banyak orang, katakanlah filsuf, agamawan/wati, mencari TUHAN.
Dengan berbagai cara, termasuk di dalamnya penalaran-penalaran.
Seperti mencari jalan turun dari gedung bertingkat seratus, Tidak mau melalui pintu, juga tidak berani meloncat ke bawah.
Sebab sekali mereka berani memilih, mereka akan “terjerambab” di dalamnya, itulah yang ditakutkan.

Manusia yang mengatakan dirinya “wah” dalam pemikiran tidak mau dikekang, bebas.
Sehingga … ya mereka juga adalah produk dari pemikiran..”menyamai YANG MAHA TINGGI”.

Oleh karena inilah makanya orang berhikmat di dunia tidak mau menggapai hikmat Kristus. Sehingga firman,”Yang berhikmat di dunia dianggap bodoh”, sangatlah benar. Karena orang yang “berhikmat” sorgawi adalah orang yang terpilih, dipilih, sehingga hikmatnya jelas berbeda.

Ditemukan lebih nikmat, walau terkadang disia-siakan, daripada mencari-cari.

Dan ingatlah firman ini, “Tidak ada satupun yang dapat melihat TUHAN”.
tentu.. yang berhikmat di dunia akan mencari dalih… lho… Israel bisa,.. Yesus..?
hmmm lihatlah.. yang berhikmat di dunia memang tidak mengerti TRITUNGGAL.

Bahkan ada mereka ini yang mengklaim arogan akan setiap jawaban dari hikmat sorgawi, tetapi dengan alasan apapun, dengan jawaban apapun, mereka tidak akan dapat menerimanya.
Sekali lagi karena memang sudah berbeda.

Kenapa harus tidak menganggap remeh

Agustus 26, 2009 pada 10:10 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Kaitkata: , ,

Kejadian 3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah….

Ayub 1:6 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.

Zakharia 3:2 Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: “TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?”

Yesaya 14:14 Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!

Yehezkiel 28:12 Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah.

sekarang dengan atribut SETAN ini… apakah kita masih anggap remeh?
kalau mau menang atas SETAN, maka mari mendengar panggilan KRISTUS

Tidak memahami dosa, menolak Kristus

Agustus 25, 2009 pada 10:08 am | Ditulis dalam Apologet | 7 Komentar
Kaitkata: , ,

Dosa asal. Banyak pengajaran yang menolak bahwa dosa Adam diturunkan sampai ke manusia terakhir kelak. Terkadang dengan mengambil alkitab yang sama, firman,”Dosa bapa tidak ditanggungkan ke anaknya”, dosa asal dibenturkan keras. Bahkan isu korupsi dan inkosistensi Alkitab merebak. Menyedihkan sekali.

Dosa dalam rangka yang sangat tepat adalah terpisah dari image Kristus yang telah diberikan kepada manusia sewaktu menciptakan manusia.
Karena Kristus adalah TUHAN, dan TUHAN adalah baik, maka image tersebut tentulah baik. Terlebih ditegaskan lagi bahwa semua ciptaan itu baik adanya. Jelas semuanya baik karena yang menciptakan adalah SANG BAIK.

Si Iblis, yang sedari awal memang ingin menyamai Yang MAHA TINGGI, berusaha menarik manusia keluar dari atribut baik itu, hebatnya dia berhasil.
Keberhasilan iblis inilah yang ditanggung manusia sampai kapanpun yaitu, kematian, penderitaan, dan semua produk-produk dekaden lainnya. Bahkan bumi berserta isinya terkena imbas yang sangat luar biasa, padang gurun, banjir, gempa dan semua bentuk kerusakan lainnya. Bahkan si iblis itupun dihukum. Ciptaan itu menjadi terkutuk. Ya iblis dan sobatnya manusia pertama itu berhasil sudah, mereka berhasil keluar dari yang baik menjadi yang rusak.

Serius sekali bukan terpisah dari baik?
Yang tidak menganggap itu tidak serius adalah si Iblis itu sendiri, karena memang semuanya itu adalah buah dari pekerjaannya sedari awal, dia mencari sekutu untuk memberontak, untuk “mengkudeta” tahta ALLAH.

Ketika kita mendengar firman, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi”, sangat tepat sekali. Yesus menggenapinya. Ia melunasi dosa Adam, keterpisahan dari ALLAH, Ia mengganti kutuk itu menjadi hidup. Kristus membangun kembali jembatan ROH kepada ALLAH, lalu dilanjutkan,“tetapi Aku berkata kasihilah musuhmu”. Setelah Yesus menggenapi Firman manusia ganti manusia, Adam (manusia pertama) ganti Adam(Anak Manusia), maka Ia merombak hukum yang sudah Ia genapi itu agar kembali ke HUKUM AWAL, yaitu melakukan HUKUM IMAGE KRISTUS, image TUHAN, yaitu diciptakan untuk berbuat baik.

Bersyukur, dan memang hanya kata syukurlah yang bisa kita ucapkan. Bagaimana tidak, lihatlah ini..
..keterpisahanmu sudah dihapuskan,
..bukan karena kekuatanmu,
..bukan karena pekerjaanmu,
dan terlebih lagi kamu dipilih di dalamnya untuk masuk dalam “pesta” rohani yang hebat.
Curang, sering kali kita berbuat curang. Segala anugerah itu membuat kita buta untuk bersyukur, bahkan sering masih terjerambab dalam kebodohan-kebodohan.

Jangan bermimpi. Kutukan TUHAN atas manusia dan alam semesta masih berlaku. Bahkan dunia dikuasai oleh kegelapan. Anda masih bisa mati, Anda masih merasakan derita, dunia meradang, tetapi kematian yang tadinya adalah tembok besar, YESUS telah ubahkan menjadi gerbang menuju RUMAH BAPA di Sorga. Maut telah dikalahkan.

Semua rahasia ini tidak dapat dimengerti oleh Iblis,
ia menolaknya, ia memelintirnya, ia memutarbalikkan pikiran,
dan pada ujungnya… yang tidak memahami dosa asal adalah menolak Kristus.

Jangan mau iblis menularkan pekerjaannya kepada Anda, biarlah dia berhasil sekali saja.

Segalanya buat kamu

Agustus 24, 2009 pada 11:56 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , , ,

TUHAN adalah pencipta alam semesta berserta isinya.
Semua yang beragama mengetahuinya.

Segala yang diciptakan diperuntukkan untuk manusia. Manusia diberi kuasa untuk mengerjakan segala ciptaan itu. Segalanya buat kita. Artinya semuanya itu berada di bawah kendalinya manusia. Manusia dikhususkan serupa dengan image yang diberikan kepadanya, image Kristus, dan yang terpenting bebas di dalam ikatan hukum. Hukum pertama tentu,”Jangan memakan buah di tengah taman itu”.

Lihatlah manusia ini,
manusia membuat patung dari batu dan kayu untuk disembah,
manusia membuat agama untuk ditaati dan dibanggakan,
manusia membuat adat istiadat untuk diharuskan oleh setiap generasi,
dan .. masih manusia
manusia bertahan hidup oleh dan demi uang, kuasa, organisasi, negara dan lain sebagainya.
Manusia yang seharusnya menguasai menjadi dikuasai.Ironis.

Makanan itu halal semua jika diucapkan di dalam syukur, firman Tuhan.
Ya benar sekali, manusia lebih tunduk kepada kenajisan binatang babi dari pada paham image Kristus yang diberikan dalam penciptaan Adam dan Hawa. Image untuk berbuat baik.

Kesalahan manusia meletakkan dirinya di antara Tuhan dan ciptaan lain (yang seharusnya di bawah kuasa manusia) adalah memperilah, adalah zinah. Garis langsung kepada TUHAN terhalang oleh segala ilah, segala ciptaan yang seharusnya di bawah kuasa manusia.

Dan lebih parah lagi adalah….
ketika segala bentuk ilah itu telah ditaklukan, seharusnya manusia bersuka cita sebab bukan oleh gagah kuat dia ilah itu dihancurkan tetapi oleh Kuat Tangan Kanan TUHAN, manusia masih belum tau, tidak mau tau, malah memperolok TUHAN seperti peristiwa salib dahulu kala. Manusia masih senang tunduk kepada segala bentuk ciptaan mereka sendiri, segala ciptaan TUHAN yang seharusnya dikuasai manusia.

Organisasi dalam Pelayanan

Agustus 24, 2009 pada 11:32 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , ,

Devosi, ribuan devosi. Ada dimana-mana. Memang ada doktrin yang berbeda menjadikan pehaman yang berbeda. Jalan tempuh terbaik, dari segala yang bentuk damai, memang memisahkan diri, tetapi tidak jarang hanya karena perselisihan pendapat dalam hal keorganisasian, meski doktrin sama maka akan begitu mudah menyulut lahirnya devosi baru.

Kita memang tidak memungkiri firman, tidak ada satupun yang suci, tidak ada satupun yang benar, tidak ada satupun yang kudus, tidak ada satupun yang baik atau tidak ada satupun yang sempurna selain DIA yang kita sebut TUHAN. Tetapi, ketika kita dituntut agar semakin sempurna, semakin serupa di dalam Kristus, maka ada tuntutan tertentu yang harus diperlihatkan bahwa kita sudah mengenal bahkan kita sudah dipilih oleh Kristus.
Semangat oikumene hanyalah khayalan tanpa menyadari bahwa kita sebenarnya satu di bawah naungan Sang Raja Gereja, Kristus TUHAN.

Yang pada akhirnya sebuah pelayanan akan menciptakan organisasi, kepengurusan demi kelangsungan segala yang disebut efektifitas, keteraturan dan mengena kesasaran.
Saya melihat, kepengurusan dibutuhkan oleh pelayanan. Dan kepengurusan itu dilahirkan oleh pelayanan itu sendiri. Sepertinya hanya tabiat, tidak ada yang suci,tidak ada yang benar, tidak ada yang kudus (lihatlah contohnya Yudas Iskariot) yang dapat memecah belah pelayanan seperti ini.
Di waktu-waktu sekarang begitu banyak kepengurusan, organisasi, melahirkan pelayanan. Mereka bisa berdiskusi berjam-jam untuk sebuah kata sepakat dari donasi dan pendanaan, tetapi memberi tiga menit untuk memutuskan bahwa diakonia untuk jemaah berkekurangan hanya memerlukan sumbangan sukarela.

Ketika organisasi mengatur pelayanan maka sangat sulit bagi kita untuk mengenal manusia-manusia yang telah dipilih setan untuk merusak, tetapi pelayanan yang membentuk organisasi akan begitu gampang melihat kelakuan setan yang gentayangan di tubuh, jikalau masih mau dikatakan demikian, Kristus.

Dan pada akhirnya, organisasi yang melahirkan pelayanan-pelayanan luar biasa kemungkinan besar hanya menimbulkan sektarian-sektarian baru. Ekslusif.
Ketika kita dituntut untuk melayani, memuridkan dan dimuridkan, maka cara efektif adalah organisasi di bawah Sang Kepala Gereja, dimana sering diambil alih oleh perorangan dalam yayasan-yayasan, kelompok orang-orang, organisasi-organisasi. Singkatnya hebat di dalam organisasi( di dunia?) belum tentu taat sebagai hamba di dalam Kristus.

Semua orang hanya bisa memilih bentuk kebenaran, seperti pertanyaan Pilatus kepada Yesus dalam persidangan “salib”, “Apa itu kebenaran?”.
Ya sebab Pilatus melihat kebenaran di dalam Yesus yang harus dibayar dengan bogeman, dengan ludahan, dengan caci maki, dengan hinaan, bahkan akhirnya salib. Sementara kebenaran menurut dia, menurut dunia, adalah kuasa akan negara, kuasa akan orang-orang, kuasa akan organisasi, kuasa atas keadaan. Baginya kebenaran menjadi tidak berarti jikalau ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Inilah Jalan Lurus itu

Agustus 21, 2009 pada 10:43 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | 13 Komentar
Kaitkata: , , , ,

Jalan Lurus, ditawarkan di mana-mana.
Menuju kemakmuran, menuju kesejahteraan, menuju keadilan, menuju kesehatan, dan bejibun tujuan yang lain.

Katakanlah Jalan Lurus yang kita maksud adalah Jalan Lurus kehidupan.
Karena dunia berbeda dengan tujuan akhir dari Jalan Lurus, maka tentunya ujian-ujian akan datang silih berganti. Itu semua adalah demi mempersiapkan dan menjadikan kita bukan anak-anak gampangan.
Jalan Lurus itu harus dijalani sampai akhir dari pertandingan hidup.

Berjalan di Jalan Lurus memang tidak disukai dunia, karena dunia tidak mau sendirian, kesepian mengarungi kehancurannya kelak. Oleh karena itulah dunia giat mencari cara menjerumuskan orang-orang yang berjalan di Jalan Lurus. Terlebih karena tujuan Jalan Lurus itu sudah jelas, maka kegiatan dunia utuk menghambatnya tentu semakin bagus. Siapa dapat melebihi kebijaksanaan si Iblis dalam hal ini?

Inilah orang-orang yang tergoda itu,
-orang yang berjalan di kiri dan kekiri-kirian hanya akan membalas, melihat dari titik yang paling sempit dari arti berjuang demi kehidupan
-orang yang berjalan di kanan dan kekanan-kananan hanya akan menerima keadaan, melihat dari titik yang sangat luas, bahkan berkata,”Tidak apa-apalah, itu lumrah”, ketika melihat sesuatu yang tidak lazim.
-orang yang berdiam di tempat, yah mereka berani mati demi suatu pertandingan yang dianggapnya tidak akan pernah melahirkan juara-juara. Bahkan jika mereka menganggap dirinya juara, kita yang lebih dalam melihat, secara rohani, kehancuranlah yang dilahirkannya
-orang yang berjalan mundur telah terikat kuat dengan dunia

dan ada dunia yang tahu banyak, tetapi berdiri di luar Jalan Lurus, kasihan sekali…
Dunia telah menang atas mereka.

ada juga dunia yang semu,.. berbayang, hanya menjadi saingan tentunya, saingan dalam hal realita, ujungnya tetap menjadi misteri berbayang…

Pertanyaanya, siapakah Jalan Lurus ini ?
Yesaya 26:7 Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya.

siapa ?
Kisah Para Rasul 9:11 Firman Tuhan: “Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,….

Yah kehidupan sang juara, Paulus, telah menjabarkan siapa Jalan Lurus itu.
Kristus Yesus, Dialah Jalan Lurus.

Mengakui apa tidak

Agustus 20, 2009 pada 11:12 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , , , ,

Hakim Hakim 13:1 Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.

Pelajaran dari ayat ini adalah…
Jika satu orang, jika satu golongan, jika satu suku, jika satu bangsa, jika satu agama jahat di mata TUHAN, maka TUHAN akan mengijinkan segala “pembantaian”.

Bicara soal pembantaian, subjek dan objeknya bisa digunakan TUHAN siapa saja, sebab DIA MAHA KUASA.

Kalau Anda di pihak yang “terbantai”, bersyukurlah, berarti TUHAN ingin Anda mendengar bisikanNYA untuk lebih mengenal DIA.

Kalau Anda di pihak yang “membantai”, rendah hatilah, sebab TUHANlah yang memberi/mengijinkan kuasa itu kepada Anda…

Pihak-pihak bergonta ganti dalam hal subjek dan objek dari “pembantaian” supaya manusia sadar dan paham bahwa manusia tidak ada yang sempurna, harus saling merendahkan diri.
Tidak ada satu manusiapun yang berada di atas, semua sama, semua berdosa, semua tidak ada yang suci, semua tidak ada yang adil, semua tidak ada yang kudus.

Ya selama kita mengakui bahwa TUHAN itu Maha Suci,
Ya selama kita mengakui bahwa TUHAN itu Maha Kudus,
Ya selama kita mengakui bahwa TUHAN itu Maha Adil,
maka kita, manusia, tidak boleh saling menghakimi.

Tidak dilihat mata

Agustus 20, 2009 pada 10:30 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , ,

Bacalah berita sekarang ini. “Yah orang itu sangat baik di mata warta”, dilanjutkan lagi, “mereka taat beragama”.
Itulah tema yang sering kita lihat dan dengar, menjurus ke berita teroris di Indonesia tentunya.

Dari Alkitab PB, BIS:
Ibrani 11:1 Beriman berarti yakin sungguh-sungguh akan hal-hal yang diharapkan, berarti mempunyai kepastian akan hal-hal yang tidak dilihat.

Yah, segala janji TUHAN yang menjanjikan kesejahteraan kita, janji damai dalam kasih Kristus, semuanya itu haruslah dipegang sungguh-sungguh, Tuhan menjamin semuanya bagi kita.
Kita mengharapkan semuanya itu, sebab sudah pasti diberikan bagi orang yang melakukan segala yang baik, segala yang TUHAN perintahkan.
Hiduplah berdamai dengan segala orang, firman Tuhan.
Kita hidup dalam damai, bukan untuk mendapatkan segala janji tadi, tetapi karena kita yakin bahwa pada saatnya semua itu sudah menjadi milik kita.

Janji damai sejahtera di dalam Kristus. Lihat pelan-pelan, banyak janji memang, tetapi hanya satu janji damai sejahtera. Ada janji surgawi tetapi kepuasan duniawi yang ditawarkan, hati-hatilah.
Sebab janji Allah memuaskan hal-hal rohaniah, mencukupi roh kita. Karena itulah semuanya itu tidak kelihatan. Dan yang tidak kelihatan ini tidak dikenal dunia yang serba melihat segalanya. Menang dalam perang itu kelihatan, terusirnya penjajah itu kelihatan, menjatuhkan pemerintahan itu kelihatan, menurunkan pemimpin zalim itu kelihatan. Siapa dapat melihat kemenangan Kristus atas maut di salib?
Siapa dapat melihat kemenangan para martir di tiang gantung?

Kemenangan di dunia yang ditawarkan adalah kemenangan atas diri sendiri.
Roh kita menguasai segala kedagingan kita.
Sehingga pemazmur berkata menguasai diri lebih dari seorang pahlawan yang merebut suatu kota berkubu.
Dan hanya orang rohaniah yang bisa melihat garam dan terang dunia.

Dimanfaatkan

Agustus 19, 2009 pada 11:05 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , ,

Diskusi si Iblis dengan Hawa adalah diskusi roniah yang pertama.
Kalau bisa dikatakan diskusi.
Sedemikian juga banyak diskusi yang sama sampai sekarang ini, tentu masih di dalam kolom rohaniah.
Dua oknum itu mengetahui akan suatu hal yang sama, tetapi yang satu memiliki maksud yang lain, sementara yang satunya lagi memiliki kemauan tertentu.

Dua oknum yang terpisah dengan maksud tunggal akan memberikan penjelasan yang sangat bias.
Katakanlah,”Jangan makan buah yang di tengah taman itu, nanti kamu mati”
Maksud tunggal jelas, jangan ini maka itu, sebutlah demikian.
Oknum yang satu ingin mempertegas rasa, penasaran, dari memakan buah itu.
Oknum yang satu lagi memelintir dari maksud jangan ini maka itu.

Lihatlah… bukankah dua oknum ini mendapat hukuman?
Mereka sama-sama mendapat hukuman dari dua cara yang mereka sajikan dalam menagih arti hukum.

So…bagaimana dengan kita?
apakah kita berdiskusi rohaniah sudah mengerti maksud tunggal?
apakah kita sebegitu dekat dengan yang Tunggal itu?
apakah kita menjelaskan agama atau rohaniah lain dari Buku Suci orang lain, sementara kita mengimani Tuhan yang berbeda?
Sedangkan satu kitab saja kita bisa berpisah sejauh langit dari bumi, devosi, doktrin dan lain sebagainya.

Mari kita bereskan hubungan kita dengan TUHAN, sebab DIA-lah sumber.
Jikalau kita jauh, meskipun banyak bahan bertebaran secara bebas, kita hanya akan menjadi penyalur berita saja.
Dan seperti oknum Iblis tadi, dia hanya menyalurkan berita, dia berada di luar perintah, dan dia menganggap dirinya layak menjelaskan lebih lanjut dari hukum yang sudah jelas.
Di dalam beritanya dia menambahi hukum itu, dia memperjelas maksudnya, setelah itu dia mengajak.
Sedikit agak mirip memang dengan yang TUHAN beritakan, DIA memberi hukum, memperjelas maksudnya lalu mengajak manusia supaya patuh.
Tetapi dari maksudnya, dari akhirnya kita melihat ujung yang berbeda.
Si Iblis memberitakan untuk mencari teman, teman untuk dimusnahkan.

Hukum yang sama dimanfaatkan. Dan memang demikianlah adanya, sebab kita mengenal TUHAN yang ESA, TUHAN dari segala Tuhan, ALLAH dari segala Allah. DIA adalah TUAN, maka hukumNYA pastilah diberikan, dan dapat ditemukan dimana saja. Bumi dan langit beserta isinya menceritakan kebesaranNYA.
Dan dari ujungnyalah, dari apa yang dilakukanlah kita dapat melihat siapa yang dekat dan diam di dalam TUHAN.

Gitu koq bangga

Agustus 18, 2009 pada 3:45 pm | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: ,

Orang bisa bangga, membubung tinggi dengan segala apa yang dia punyai.
Ketika pikiran setuju dengan ideologinya, duh .. betapa maniak jadinya.

Betapa senang orang kalau tokoh yang dia idamkan contohnya adalah seagama dengan dia,
betapa senang orang kalau tokoh hebat itu adalah seideologi dengan dia,
dan betapa maniaknya kita dengan fanatisme kedaerahan…
Jika negara yang adalah asal dari agama saya terjadi sesuatu maka kita seperti merasakan kontak batin.

Hmm,
tak sedikit orang memang dipermainkan oleh iblis.

Sebab tanpa mengetahui apapun yang terjadi orang bisa beradu mulut… seterusnya malah ada yang mengajak perang, jika, misalnya negara di timur tengah sana menyerang negara di tetangganya…

Dengan dalih Tuhannyalah yang paling benar, agamanya paling dekat dengan kontak Tuhan, nabinya paling mulia… dan dengan-dengan yang lain, orang bisa diberdaya oleh iblis, dengan kebanggaan yang “terlalu”.
Benar kita harus bangga dengan TUHAN yang membela kita, tetapi apakah Anda harus bangga dengan segala yang diberikan TUHAN kepada orang lain?, negara lain? …lain?
Apa urusanmu dengan TUHANmu, itulah yang harus anda banggakan…
Berbanggalah dalam kerendahan hati.

Orang lain yang senang, kita koq bangga.
Berhubunganlah secara pribadi dengan TUHAN, itu lebih membanggakan.

Solidaritas?, gitu koq bangga.

Cinta dan pernikahan

Agustus 18, 2009 pada 11:33 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , ,

Penampilan bagi wanita bisa jadi adalah segalanya, sebab pria melihat yang indah itu adalah sebuah kebiasaan.
Pertengkaran-pertengkaran, kecemburuan tanpa alasan dan lain sebagainya terkadang timbul dari kebiasaan ini.

Bukan di sini bahasan kita.

Keluarga, ya keluarga yang dilanda gelombang kehidupan kadang harus merelakan harta-harta, merelakan banyak hal.
Tak jarang orang berseru,”Pernikahan ini harus saya pertahankan, apapun yang terjadi”.
malah ada yang tersedu,”…saya terpaksa cerai..”.

SADAR DONG!!!!

Suami dan Istri dipersatukan oleh cinta, kasih, komitmen.
Tuhan memateraikannya sehingga menjadi satu.
Jadi bukan pernikahannya yang harus dipertahankan, tetapi cintanya, kasihnya, komitmennya.
Terlebih berdoalah (dibaca: Jangan jauh dari Tuhan), minta supaya materai pemersatu itu agar tetap kuat.

Semakin baik

Agustus 18, 2009 pada 11:18 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: ,

Teknologi yang semakin mutakhir.
Peralatan canggih menghiasi hari-hari kita.
Perumahan yang semakin sehat, lingkungan tentunya.

Instan, ya makanan bisa didapat dengan instan.
Informasi yang cepat.
Keingintahuan yang semakin memuncak.

Kehidupan yang semakin baik…..
dan ada agama, atau organisasi, atau kumpulan orang yang berjuang untuk semakin baik…

Yah paling tidak semakin baik dari cara pandang manusia.
Sebab hidup tanpa masalah adalah baik.
Mendapatkan untung dengan cepat adalah baik.
Kurir yang mengirim barang tepat waktu adalah baik.


dan sejuta kebaikan lainnya.

Segala sesuatu memang baik, tetapi tidak semua yang dapat membangun kita.
Segala sesuatu…
Minum Alkcohol ? ada baiknya.
Babi? ada baiknya.
Menampar? ada baiknya.

setan? ada baiknya
tanpa memperjelas lebih lanjut, sebab ini bukan relatifitas

Ya segala sesuatu bisa direkakan Tuhan untuk kebaikan kita.

Yang Tuhan mau kita jangan menjadi hamba dari segala kebaikan yang diberikan Tuhan itu.
Tetapi jadilah hamba bagi TUHAN.

Si Miskin

Agustus 14, 2009 pada 1:19 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , ,

Jangan terlalu jauh pikirannya, miskin artinya di sini, bagi awam, tidak mempunyai harta.

Sangatlah gampang memang mencari janji-janji TUHAN di Alkitab mengenai berkat-berkat materi,
sehingga terkadang kita bermain matematika dengan TUHAN.
Jika kita memberi sepuluh, maka dengan iman, dengan kesabaran, dengan kerja keras kita menunggu perkalian 30, 60 atau 100 kali lipat pemberian TUHAN atas kebaikan tadi.

Diskusi kitapun disebut diskusi rohani, dan oleh karena itu jugalah kita harus sadar, bahwa TUHAN menginginkan supaya kita membereskan rohani kita dulu.

Kenapa seorang pengamen (yang kita cap miskin) bisa menaiki bus kemana saja ia mau tanpa mengeluarkan sepeserpun? Dia bahagia?

Kenapa seorang golongan menengah ini harus berjuang terus menimbun pundi rekening untuk tujuan membeli rumah, itupun mungkin tidak akan pernah tercapai? Dia bahagia?

Kenapa seorang kaya raya ketika terjerat penyakit Korupsi tiba-tiba jatuh sakit parah? Dia bahagia?

Sekali lagi, miskin bukanlah pada apa yang dipunyai seseorang di luar sana atau di luar dirinya sendiri.
Miskin adalah ketidaktahuan seseorang akan apa yang dia punyai di dalam dirinya.
Jika seorang mengaku bertuhan, maka TUHAN hadir di dalam dirinya. BUKANkah TUHAN yang empunya langit dan bumi ?
Seorang yang tidak puas dengan apa yang di dalam dirinya, dia belumlah mengenal TUHAN, dan ia akan memaksa TUHAN agar memberikan yang di luar sana. Tetapi ketika ia mendapatkan yang di luar sana, sementara yang di dalam dirinya tidak beres, ia masih miskin.
Maka….
sudahlah telah terlahirlah si miskin yang congkak, dan linglung.

TUHAN sanggup memberikan dan mengambilnya kembali apa yang di luar sana, tetapi TUHAN amat senang dengan kekayaan yang ada di dalam diri kita, DIA tidak pernah mengambilnya malah diperbaharui dan semakin diperbaharui… Integritas (…lihatlah Ayub)

Hidup bersama setan

Agustus 13, 2009 pada 11:17 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , ,

Kelakuan yang menjurus ke klaim suci dan kudus sangatlah luar biasa.
Penegasan yang benar sekali, bahwa di luar yang kudus dan yang suci adalah negasi dari kudus dan negasi dari suci. Tentu itu adalah setan.
Setan harus dibumihanguskan, setan harus dibasmi, setan harus disikat.
Siapapun sepakat bukan?

….

Di bus kota, seorang yang suci duduk di bangku tengah. Penumpang lain duduk tenang di sebelahnya.
Dan karena dari perawakan dan tabiatnya ternyata bisa mengenal bahwa teman sebangkunya tadi tidak sama dalam hal suci dan kudus. Sekali lagi dia telah duduk sebangku dengan setan.

….

Terlebih, seorang tua renta di beri makan, dipelihara oleh orang-orang di gedung sebelah sana. Kaum papa yang disayang dan dituakan.
Karena mereka ini tidak se suci saya, tidak se kudus saya, maka mereka adalah…
Ya setan, mereka setan semua.

diulang lagi
Tidak ada orang yang bisa hidup berdampingan dengan setan, jadi dicanangkanlah pembunuhan.
Karena di luar saya tidak suci dan tidak kudus, maka seluruh dunia harus dikuduskan, harus disucikan.
Semua setan-setan harus dibasmi, harus disikat…. itulah baru dunia yang suci, dunia yang adil, dunia yang dipenuhi oleh keberkatan.

…..TIDAK ADA SATUPUN YANG SUCI….HANYA TUHAN SAJA….
setan tidak percaya firman ini, mereka gerah dengan firman ini.
Sehingga yang mengklaim dirinya suci, dirinya kudus, adalah Iblis yang selalu, bahkan sedari awalnya, ingin menyamai Yang Maha Tinggi.
Dan karena hanya TUHAN-lah Hakim, oknum inipun menempatkan diri sebagai hakim untuk membasmi yang negasi kudus dan negasi suci tadi.
Semua karena setan tidak mengenal salib, vertikal mengasihi TUHAN, horizontal mengasihi sesama.
Sekalipun mereka mengenalnya salib mereka berduri dan beracun. Dan malang sekali orang-orang, sahabat-sahabat yang sama tidak suci dan sama tidak kudusnya dapat dipercaya oleh Setan, musuh yang sebenarnya.

Sahabat yang dapat diperdaya oleh si Jahat ini, hanya menjadikan kita setan di sebelahnya. Ya.., ia hidup bersama setan.

Inilah Berita itu

Agustus 12, 2009 pada 11:55 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata:

TUHAN adalah pencipta Alam semesta beserta isinya.

Karena dunia ini adalah materi, dan berlaku hukum mekanik. Dan mekanik tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Maka haruslah ada Pribadi di luar mekanik atau di luar materi yang menjadikan segala sesuatu yang materi ini. TUHAN.

Ex Nihilo, dari yang tidak ada menjadi ada. Segala sesuatu hanya berasal dari Hikmat dan Pikiran TUHAN.
Dan sayangnya kita tidak sanggup mencapaiNya. Sebab hanya ROHNYA-lah yang bisa menyelami Pikiran dan Hikmat itu semua. TUHAN mengenal TUHAN. Jadi jangan pernah berbikir untuk dapat menjangkauNya. Sebab tak satupun yang dapat melihat TUHAN. Sebab kita adalah materi.

Sedemikian kalau ada pertanyaan keberadaan yang jahat, apakah ada di Pikiran dan Hikmat itu sebelum dunia jatuh di dalam dosa atau sebelum IA mencipta. Kuncinya adalah segala yang berada di niat dan perlakuan kita bukanlah ciptaan TUHAN, walapun dikatakan IA menciptakan segala sesuatu, IA tidak menciptakan berbohong misalnya. Jadi bisa saja si Jahat ini adalah perilaku menyimpang. Ia diciptakan baik, tetapi menyimpang dengan sengaja.
Sebab Jahat adalah sesuatu yang ada (untungnya segala sesuatu di bawah kendali TUHAN). Dan kita hanya menjurus kepada manusia pertama, bahwa mereka, Hawa dan Adam, tergoda oleh yang Jahat. Sehingga mereka berdosa, terpisah dari image baik yang diberikan TUHAN kepada mereka.
TUHAN itu baik, dan segala sesuatu yang tidak baik adalah terpisah dengan TUHAN, dan walaupun terpisah IA menguasaiNya, karena IA Maha Kuasa.

IA mencipta bukan untuk ketidakbaikan, IA mencipta dalam keadaan baik semuanya.
Dan karena baik, IA menyayanginya. Dan sekalipun ciptaan itu telah menyimpang IA tetap mengasihinya. Karena TUHAN adalah kasih.
Sekali lagi, karena TUHAN tidak dapat dilihat, maka hanya dengan cara TUHAN-lah IA dapat dilihat.
Artinya segala yang tidak materi itu hanya bisa menjadi materi kalau yang tidak materi itu beracara, bertindak, melakukan konsep penciptaan.
Sehingga oleh karena kasih yang begitu besar itu, dan oleh karena IA adalah Pencipta, maka IA dengan HikmatNya telah menjadi daging. Anak Manusia.
Daging adalah ciptaan, tetapi ROHNYA tidak. Sehingga cara TUHAN untuk menyelamatkan keterpisahan dari TUHAN itu nyata kita lihat. Itulah rahasia besar itu. Inilah berita itu.
Dan bagaimana daging itu sanggup mempunyai ROH TUHAN? sekali lagi kita tidak sanggup menelusuri Pikiran dan Hikmat TUHAN, sebab hanya ROHNYA yang tahu, dan TUHAN mengetahui TUHAN

Lihatlah Daging itu telah mati, untuk penebusan salah, untuk mengembalikan keterpisahan tadi, tetapi di dalam Roh DIA bangkit kembali bahkan naik ke sorga. Kembali ke TAHTANYA.
Karena berita ini begitu Agung dan Mulia, maka mari ikutlah memberitakannya.
Berlakulah sesuai tuntuntan salibNya. Berbuat baiklah.

Si Jahat, sesuai namanya, adalah perilaku menyimpang dari segala yang baik yang pernah diciptakan.
Dan pekerjaan besarnya adalah menolak berita, berpikir bahwa berita itu tidak ada, dan malah memutarbalikkan berita ini. Sebab si Jahat sudah di dunia, kita masih di dunia, dan dia pengecut yang membutuhkan teman.

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.