Tritunggal
Juli 29, 2009 pada 3:20 pm | Ditulis dalam Apologet | 15 KomentarKaitkata: Tritunggal
Banyak yang menyajikan kedalaman artinya tetapi saya memilih satu pasal penuh yaitu Hakim-hakim 13 saja
Hakim-hakim
13:1 Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.
13:2 Pada waktu itu ada seorang dari Zora, dari keturunan orang Dan, namanya Manoah; isterinya mandul, tidak beranak.
13:3 Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: “Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.
13:4 Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.
13:5 Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin.”
13:6 Kemudian perempuan itu datang kepada suaminya dan berkata: “Telah datang kepadaku seorang abdi Allah, yang rupanya sebagai rupa malaikat Allah, amat menakutkan. Tidak kutanyakan dari mana datangnya, dan tidak juga diberitahukannya namanya kepadaku.
13:7 Tetapi ia berkata kepadaku: Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; oleh sebab itu janganlah minum anggur atau minuman yang memabukkan dan janganlah makan sesuatu yang haram, sebab sejak dari kandungan ibunya sampai pada hari matinya, anak itu akan menjadi seorang nazir Allah.”
13:8 Lalu Manoah memohon kepada TUHAN, katanya: “Ya Tuhan, berilah kiranya abdi Allah, yang Kauutus itu, datang pula kepada kami dan mengajar kami, apa yang harus kami perbuat kepada anak yang akan lahir itu.”
13:9 Maka Allah mendengarkan permohonan Manoah, sehingga Malaikat Allah datang pula kepada perempuan itu, ketika ia duduk di padang dan ketika Manoah, suaminya itu, tidak ada bersama-sama dengan dia.
13:10 Kemudian perempuan itu segera berlari memberitahukan kepada suaminya, katanya kepadanya: “Orang yang datang kepadaku baru-baru ini menampakkan diri pula kepadaku.”
13:11 Lalu bangunlah Manoah dan mengikuti isterinya. Setelah sampai kepada orang itu, berkatalah ia kepadanya: “Engkaukah orang yang telah berbicara kepada perempuan ini?” Jawabnya: “Benar!”
13:12 Lalu kata Manoah: “Dan apabila terjadi yang Kaukatakan itu, bagaimanakah nanti cara hidup anak itu dan tingkah lakunya?”
13:13 Jawab Malaikat TUHAN itu kepada Manoah: “Perempuan itu harus memelihara diri terhadap semua yang Kukatakan kepadanya.
13:14 Janganlah ia makan sesuatu yang berasal dari pohon anggur; anggur atau minuman yang memabukkan tidak boleh diminumnya dan sesuatu yang haram tidak boleh dimakannya. Ia harus berpegang pada segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
13:15 Kata Manoah kepada Malaikat TUHAN itu: “Perkenankanlah kami menahan Engkau di sini, supaya kami mengolah anak kambing bagi-Mu.”
13:16 Tetapi jawab Malaikat TUHAN itu kepada Manoah: “Sekalipun engkau menahan Aku di sini, hidanganmu itu tidak akan Kumakan. Tetapi jika engkau hendak mengolahnya menjadi korban bakaran, persembahkanlah itu kepada TUHAN.” Sebab Manoah tidak mengetahui, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN.
13:17 Kemudian berkatalah Manoah kepada Malaikat TUHAN itu: “Siapakah nama-Mu, sebab apabila terjadi yang Kaukatakan itu, maka kami hendak memuliakan Engkau.”
13:18 Tetapi jawab malaikat TUHAN itu kepadanya: “Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama itu ajaib?”
13:19 Sesudah itu Manoah mengambil seekor anak kambing dan korban sajian, lalu mempersembahkannya kepada TUHAN di atas batu. Lalu diperbuat-Nya keajaiban, sementara Manoah dan isterinya memandanginya.
13:20 Sedang nyala api itu naik ke langit dari mezbah, maka naiklah Malaikat TUHAN dalam nyala api mezbah itu. Ketika Manoah dan isterinya melihat hal ini, sujudlah mereka dengan mukanya sampai ke tanah.
13:21 Sejak itu Malaikat TUHAN tidak lagi menampakkan diri kepada Manoah dan isterinya. Maka tahulah Manoah, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN.
13:22 Berkatalah Manoah kepada isterinya: “Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah.”
13:23 Tetapi jawab isterinya kepadanya: “Seandainya TUHAN hendak membunuh kita, maka tidaklah Ia menerima korban bakaran dan korban sajian dari tangan kita dan tidaklah Ia memperlihatkan semuanya itu kepada kita dan tidaklah Ia memperdengarkan hal-hal yang demikian kepada kita pada waktu sekarang ini.”
13:24 Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia.
13:25 Mulailah hatinya digerakkan oleh Roh TUHAN di Mahane-Dan yang terletak di antara Zora dan Esytaol.
(sumber ayat dari http://www.sabda.org, Copyright LAI)
Mari kita bahas:
13:1 Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.
Pribadi yang beraktifitas di sini adalah TUHAN (ditransliterasikan ADONAI dalam Ibrani).
Dialah yang menciptakan dunia dan segala isinya, yang Awal dan yang Akhir , Alpha dan Omega (Yunani, Wahyu 1:8), Rhison dan Ahharon (Ibrani, Yesaya 48:12), Dialah Penebus Israel (Yesaya 44:6, Yesaya 49:7), IA KUDUS (Mazmur 99:9) dan SUCI (1 Jn 3:3), di dalam Dia tidak ada Dosa (1 Jn 3:5)
13:3 Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: “Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.
13:6 Kemudian perempuan itu datang kepada suaminya dan berkata: “Telah datang kepadaku seorang abdi Allah, yang rupanya sebagai rupa malaikat Allah, amat menakutkan. Tidak kutanyakan dari mana datangnya, dan tidak juga diberitahukannya namanya kepadaku.
Pribadi yang dominan di sini adalah Malaikat TUHAN.
Berfirman di sini dalam Strong Hebrew menggunakan kata ‘amar.
Presiden tidak berfirman kepada menterinya. Sekjen PBB tidak berfirman kepada anak SD di Jakarta, tetapi hanya Subjek TUHAN yang disebut berfirman.
Maka dituliskan… Malaikat TUHAN berfirman
Tetapi kata yang sama, ‘amar, digunakan ketika Istri Manoah berkata kepada suaminya.
Yang pada akhirnya kitapun harus membedakannya sesuai wacana, Presiden tidak berfirman kepada bawahannya, hanya TUHAN yang berfirman.
Kalau kita bertanya kenapa Malaikat Tuhan ini harus dituliskan dengan ‘amar=berfirman, bukan ‘amar=berkata…untuk sementara kita lanjutkan dulu dengan perkataan istri Manoah di ayat 6 tadi, sesuai pengertiannya bahwa:
Malaikat TUHAN=abdi Allah (rupanya sebagai rupa malaikat Allah)
sehingga menggerakkan hati sang suami untuk….
13:8 Lalu Manoah memohon kepada TUHAN, katanya: “Ya Tuhan, berilah kiranya abdi Allah, yang Kauutus itu, datang pula kepada kami dan mengajar kami, apa yang harus kami perbuat kepada anak yang akan lahir itu.
Tentu sang suami berdoa kepada TUHAN (lihat di atas siapa Pribadi TUHAN), supaya abdi Allah= Malaikat TUHAN (malaikat=utusan=pemberi berita) datang kembali untuk memperjelas “firmanNya” (diquote untuk memperjelas bahwa kata ini masih membutuhkan penjelasan di akhir nanti)
lalu…
13:9 Maka Allah mendengarkan permohonan Manoah, sehingga Malaikat Allah datang pula kepada perempuan itu, ketika ia duduk di padang dan ketika Manoah, suaminya itu, tidak ada bersama-sama dengan dia.
13:10 Kemudian perempuan itu segera berlari memberitahukan kepada suaminya, katanya kepadanya: “Orang yang datang kepadaku baru-baru ini menampakkan diri pula kepadaku.”
13:11 Lalu bangunlah Manoah dan mengikuti isterinya. Setelah sampai kepada orang itu, berkatalah ia kepadanya: “Engkaukah orang yang telah berbicara kepada perempuan ini?” Jawabnya: “Benar!”
TUHAN mendengar doa Manoah, “orang” itupun datang, Malaikat TUHAN itu datang, abdi Allah itu datang, Utusan itu datang,….
… seterusnya
13:21 Sejak itu Malaikat TUHAN tidak lagi menampakkan diri kepada Manoah dan isterinya. Maka tahulah Manoah, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN.
Apa yang perlu kita kagetkan dengan kalimat ini?, kenapa harus ada kata Maka tahulah Manoah…
itu disebabkan oleh…
13:22 Berkatalah Manoah kepada isterinya: “Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah.”
Nah sekarang kita sudah mengenal Pribadi Malaikat TUHAN ini bukan ?, Dia adalah Allah, dan Allah layak berfirman.
Apakah masih ada yang tersirat?
Ada….
Manoah berdoa kepada TUHAN, supaya Abbi Allah itu datang.
karena TUHAN adalah SUCI, KUDUS dan tidak ada Dosa di dalamNya, maka Ia tidak berbohong untuk mewakilkan DiriNya dengan diri yang lain, hanya untuk memenuhi doa Manoah, yaitu berjumpa lagi dengannya. Tetapi Ia sendiri datang untuk memenuhi doa Manoah. Ia datang dalam istilah terkenal Teofani.
Sungguh kedalaman yang sulit dipahami bukan?. terlebih untuk menjawab keraguan Manoah dalam memastikan siapa yang datang itu, Ia menjawab: “Benar”, artinya..”Akulah DIA, Akulah Yang Datang itu itu”...
IA tidak terlalu kaku dengan perngertian sementara Manoah bahwa abdi Allah=orang Utusan=Malaikat Tuhan… Tetapi malah Malaikat TUHAN itu melakukan hal-hal yang ajaib sampai Manoah mendesah..”Binasalah kita sebab kita telah melihat Allah..”.
sampai di sini kita diwarisi pengajaran dari keluarga kecil yang mendapat karunia perjumpaan dengan TUHAN ini,.. bahwa: Malaikat TUHAN= abdi Allah=malaikat Tuhan=utusan=orang (yang rupanya sebagai malaikat Tuhan)=Allah.
SemuaNya adalah Pribadi yang sama karena melihat dan merasakan Pekerjaan yang sama, yaitu KUASA yang sama.
Pribadi TUHAN tidak terkungkung akan pengertian manusia, baik kita panggil abdi Allah, orang, malaikat Tuhan, Malaikat TUHAN, Dia, tetaplah DIA, adalah TUHAN.
Utusan tertentu, Tuhan tertentu, Allah tertentu bisa saja mengaku ADONAI, tetapi lihatlah buah dari pekerjaanNya, maka kita bisa tahu pribadi di baliknya.
Di dalam kalimat-kalimat Ibrani di Alkitab, Kata Kerja selalu mendahului Subjek.. maknanya bagi saya adalah dari hasil Kerja itu kita bisa tau siapa Subjeknya
dan pada akhirnya…
13:25 Mulailah hatinya digerakkan oleh Roh TUHAN di Mahane-Dan yang terletak di antara Zora dan Esytaol.
Pribadi dominan beralih kepada Roh TUHAN…
Di awal dikatakan, anak yang lahir ini akan dan harus melakukan apa perintah TUHAN…
Anak ini dikhususkan buat TUHAN… dan Samson itu dituliskan di pasal berikutnya dikuasai Roh TUHAN…
Bhinneka Tunggal Ika
Juli 29, 2009 pada 2:03 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan KomentarKaitkata: Bhinneka Tunggal Ika
Di dalam sebuah rapat kecil, urat kita serasa menjadi tegang ketika apa yang sudah kita putuskan pada akhirnya harus dirombak karena ada orang yang kurang paham atau malah tidak setuju.
Tentu tenaga, waktu dan kesabaran akan disita habis-habisan untuk menyamakan prinsip lagi.
Jika kumpulan kecil tadi kita kali dengan sejuta, maka itulah gambaran kusut dalam sebuah negara yang ber-bhinneka.
Founding fathers kita mencetuskan, Bhinneka Tunggal Ika. Biarpun otak kita berbeda, bahasa, logat, pemikiran, adat dan sebagainya, kita tetaplah satu yaitu Republik Indonesia.
Ranah itu memang membangkitkan tingkat nasionalisme, bulu kuduk kita berdiri kala mendengar Indonesia Raya dikumandangkan di event Internasional misalnya.
Tetapi…
(setiap kata tetapi selalu mengejutkan kita, meminjam kalimat Swindoll)
…ketika memasuki wilayah agama, maka apa yang terjadi adalah lahirnya pertanyaan ujung , “Lebih tunduk kepada negara, atau kepada Tuhan?”…
Orang yang memilih lebih tunduk kepada Tuhan tentunya sedang melakukan apa-apa yang kemungkinan tidak sama dengan apa yang diinginkan Negara. Bahwa mengatakan Presiden penakut, pendosa adalah perbuatan yang tunduk kepada Tuhan, tetapi melewati kelancangan kenegaraan.
Cara yang jitu, kita hanya perlu menggali “kekuatan” Tuhan kita.
Kalau kita memahami Tuhan mahakuasa, apa faedahnya untuk tidak tunduk kepada negara.
“Berbuatlah yang baik”, kata Kitab Suci. Kalau ada pemerintahan yang tidak menyetujui kebaikan, itulah yang harus dilawan. Dilawan dengan berbuat baik lagi.. berbuat baik lagi, lagi dan lagi…
Jadi perbedaan yang ada adalah untuk menajamkan kita.
Janganlah kiranya kita berjuang untuk memperoleh kesamaan, sebab kita sudah diciptakan berbeda.
Perbedaan adalah salah satu wajah dari keunikan.
Iman menajamkan iman.
Agama menajamkan agama.
Kebaikan melahirkan kebaikan.
Bhinneka Tunggal Ika, satu di dalam berbuat baik
Mengidolakan Tuhan
Juli 29, 2009 pada 9:25 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan KomentarKaitkata: Idola
Sebuah team sepak bola yang terkenal sejagad melakukan pertandingan final kejuaraan di tingkat benua.
Dua team tentunya akan beradu di sana.
Kedua team ini memiliki para penggemar-penggemar sejati. Bahkan penggemar sejati yang lain sudah lebih dulu merasakan sakit hati karena teamnya tumbang di babak-babak awal.
Sebelum perhelatan dimulai, maka akan begitu banyak kalimat-kalimat dari kedua kubu yang akan saling menyerang, mengungguli, melemahkan dan tentunya bahasa-bahasapun terkadang melewati nalar.
Seorang penggemar tanpa mengenal, tanpa “melihat” hanya menonton dan membaca dari media akan memberi penilaian melangit untuk pemain tertentu yang bisa jadi adalah seorang yang bertalenta tinggi.
Dia telah menjadi idola. Dan si penggemar telah mengidolakan si pemain dengan amat sangat.
Di dunia lain juga hadir idola-idola, di dunia musik, di dunia film dan lain sebagainya.
Mereka tumbuh dan hilang, terkadang ada juga yang menua melewati waktu.
Jika diperhatikan orang-orang yang telah mengidolakan seseorang, pada usia tertentu mungkin faktor kecepatan menyerap lebih tinggi, maka lambat laun pola hidup, gaya sang idola bisa mengubah, bahkan bisa sampai total, dari pola hidup si penggemar.
Orang yang sudah berubah telah menciptakan gambaran yang lebih dari apa yang terlihat.
Dan karena ia hanya menonton dan membaca dari panca indera turunan maka tentu banyak informasi yang keliru, banyak kejadian yang terlepas, dan banyak interaksi yang salah.
Terlebih jika ternyata sang idola adalah kekeliruan yang lain, maka bukankah akan terbentuk kekeliruan-kekeliruan yang lain yang lebih gelap?
Sekarang marilah melihat yang satu ini.
Seseorang yang telah mengidolakan Tuhan, apakah yang sanggup ia berikan untuk sang idola?
Bahkan untuk “kesalahan” tertentupun maka si penggemar akan membela mati-matian sang idola, jangankan nyawa, dunia inipun akan diberangus untuk itu.
Maka kitapun tersadar, atau mungkin kita harus menilik dalam ke hati, ke iman kita.
Apakah Tuhan kita pandang sebagai idola?
atau kita melihat, merasakan, atau menjunjung Tuhan sebagai Tuhan?
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.
