Bukti Allah itu ada

Juli 31, 2009 pada 4:42 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | 6 Komentar
Kaitkata: , , ,

Si skeptis meradang :”Bagaimana manusia-manusia bodoh ini bisa
percaya akan sesuatu yang sampai kapanpun tidak akan pernah
mereka lihat?”
Ia berguman tentang kepercayan, iman kepada Tuhan, yang ia
sebut sesuatu yang seharusnya mustahil ada.

Dunia materi adalah ciptaan Tuhan, dan kita harus
sadar bahwa ciptaan itu tidak dapat mengurung yang
menciptakannya ke dalam Laboratorium pembuktian.
Lebih jelasnya, Tuhan adalah di luar materi.
Jadi sangat tidak mungkin materi dapat mengikat yang bukan materi untuk
dijabarkan bahwa di luar materi ada sesuatu.

Terngianglah firman ini, yang terbodoh di dunia ini, itulah yang dipandang berkhidmat oleh Tuhan.
Tanpa diragukan memang, para skeptis (baik kepada kaum
agamawi maupun kepada Yesus Tuhan) adalah orang-orang yang
mutakhir. Tetapi tanpa diragukan juga bahwa dari yang
beriman juga banyaklah orang yang termutakhir.
Dan yang tercanggih di pihak Tuhan itupun sama sekali tidak
dapat membuktikan dengan “Laboratorium” akan keberadaanNya

Kita adalah firman Tuhan yang tertulis, untuk dibaca dimana
saja.
Firman yang mana?
Yaitu, “Jangan jemu-jemu berbuat baik”, “Kasihilah”, “Doakanlah”, “Lemah lembut”,..dan lain sebagainya
Jikalau kita berbuat baik, artinya kita dilihat baik.
Dan karena kita berbuat buat bukan karena kita yang
melakukannya tetapi karena Roh Kristus yang diam di dalam
kita, maka dengan sendirinya menjadi pembuktian bahwa yang
baik itu ada.

Yang baik ada, yang baik hanya Kristus, jadi Kristus ada.
Itulah pembuktiannya.

Dunia tidak mengenalNya, karena Ia tidak datang dari dunia
ini. Ia datang dari yang bukan materi.
Sedemikian kebaikan di dunia ini susah kita lihat karena dunia tidak mengenal
berbuat baik.
Sehingga marilah berlomba berbuat baik, karena itu membuktikan Tuhan
itu ada.
Walapun tanpa pembuktian ini Ia tetap adalah, tetapi tujuan
kita dipanggil dalam jaman anugerah ini adalah untuk
sedapat mungkin menjangkau orang-orang agar membaca jalan hidup kita.
Sekali lagi kita, yang percaya, adalah firman-firman
berjalan.

Tidak membalas dengan amarah ketika kita dijalimi dan malah mendoakannya, dunia mengatakannya “ORANG BODOH”

TUHAN yang tidak kita setujui

Juli 31, 2009 pada 11:21 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | 1 Komentar
Kaitkata: ,

“Bunuhlah semua penduduk negeri itu”

Tidak ada manusia normal yang tega membunuh bukan.
Dan Tuhan yang berfirman :”Jangan kamu membunuh”, menyuruh suatu bangsa
untuk membunuh. Bahkan menghapus suatu daerah berikut penduduknya.
Kita tahu, memang Israel tidak sepenuhnya mau atau mungkin sanggup membunuh semua penduduk negeri Kanaan itu, tetapi dilema ada di atas tadi.

Gerakan kemanusiaan sekarang memang agak risih dengan apa yang Tuhan lakukan, perintahkan di atas.
Sekarang apakah kita harus membela TUHAN ?, Tidak Tuhan tidak perlu dibela, justru kitalah yang dibela olehNya. Atau bahkan orang berimanpun masih banyak yang menilai mengikut Tuhan adalah mengalirnya berkat melimpah, rekeningpun membubung.

Letak persoalannya adalah tidak semua orang mengenal TUHAN, bahkan yang berseru Tuhan, Tuhanpun termasuk di dalamnya

“Abang.. mainan abang yang ini, ibu buang ajah yah”. Si anak bingung.
Tetapi masih dilanjutkan lagi , “abis menuh-menuhin kamar abang ajah”.

TUHAN adalah pencipta alam semesta berserta isinya.
Dan Ia tahu apa yang baik.
Jika pada titik tertentu Ia melihat sesuatu harus digenapi, bahwa manusia yang sudah bersekongkol dengan maut dan tidak mau diubahkan, mau dibuang sekarang dan nantipun faedahnya sama, tetapi karena Ia Maha Tahu, Ia-pun tahu kapan harus menghapuskan manusia dari muka bumi tertentu.

Dan bagi yang mengenal TUHAN-pun, dengarlah firman ini
.. takutlah akan TUHAN…

sebab jika Ia berpikir Anda/kita perlu dibunuh, kitapun akan dibunuhnya sekarang juga, tanpa meminta persetujuan.

Kristus adalah Kepala

Juli 31, 2009 pada 10:17 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata:

Ini bukan hanya doktrin.
Tubuh/daging memang lemah, dan roh tentu berbeda dengan daging.
Ketika kita yang percaya mengklaim bahwa Kristus tinggal di dalam kita, maka…
Apakah Anda dapat merasakan dentungan jantung yang tidak seperti biasa ketika kita melakukan pelanggaran-pelanggaran sekecil apapun ?
dan..
Apakah kita memenangkan suara hati itu ?
…dengarkanlah suara Tuhan, ketika Ia masih berkenan.. firman Tuhan
Betapa kita sering memenangkan daging kita atas suara hati itu.

Ketika dikatakan bahwa Kristus adalah Kepala, bahwa memang hanya Dia dalam keadaanNya sebagai manusia yang mampu memenangkan semua pertandingan rohani seperti itu. DagingNya tunduk seratus persen kepada Roh Tuhan yang ada di dalam Dia.
Paulus dalam kompleks masalah yang dia hadapi harus mengalami perselisihan yang hebat dengan Barnabas.
Daud, Musa, Abraham, harus mengalami pergolakan dengan Poligaminya.
Adam bergumul keras dengan buah yang ditawarkan Sang Hawa.
Dan kita, anggota-anggota yang lain, panjanglah list yang berisi perihal kemenangan tubuh atas roh, dan kebanyakan hasilnya membuat kita bangga.

Tetapi, kita pun sadar bahwa memang banyak anggota, tetapi hanya satu Tubuh.
Dan hanya kasih karunia Tuhan yang bisa mengampuni setiap pelanggaran kita.

Tidak ada satupun yang suci, firmanNya lagi.

Lihatlah setiap daftar kemenangan Anda, bahwa tamparan kecil sama saja dengan tonjokan, sebab semuanya itu adalah daftar kelancangan di mata Tuhan.

Belajarlah mengurangi list kemenangan Anda, rendahkan hati, maka kitapun semakin sempurna, seperti Kristus sempurna memenangkan semua pertandinganNya.

Kasih

Juli 31, 2009 pada 9:56 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: ,

Janji yang satu ini tentunya sudah sangat umum kita dengar.
Jika kamu mendengarkan firmarKu dan tinggal di hatimu, maka mintalah kepada Bapa apa saja yang kamu mau, maka permintaanmu itu akan dipenuhi

Seorang yang beriman sedang sakit parah, dan tentunya setiap yang sakit memerlukan kesembuhan.
Apakah permintaan orang ini akan dijawab ?

Dunia ini penuh dengan penderitaan, dan tak memandang kuantitas, ada saja tentunya seorang beriman memohon penghapusan penderitaan.
Apakah permintaan orang ini akan dijawab ?

Dan banyak permohonan yang lain yang rasanya ingin dijawab dengan segera

Sekarang marilah kita lihat janji di atas:
Jika kamu mendengarkan firmarKu dan tinggal di hatimu,
Firman atau perkataan atau ajaran Yesus menjadi rhema. Semuanya tinggal di dalam hati kita dan kita melakukannya dalam keseharian… (ini yang sulit bisik nurani terdalam, bagian ini nanti akan dibahas di judul “Kritus adalah Kepala”)

Dengan cara apakah Tuhan kita tinggal di dalam kita?
Dengan cara apakah kita satu dengan Dia?
Yaitu bersatu di dalam roh.
Jika roh kita tunduk kepada Roh Kristus, maka dikatakan Kristus menjadi Kepala.
Roh inilah yang membantu kita melihat, menelaah, berhikmat dan berdoa.
Jika kita sudah melihat ajaran atau hikmat dari keadaan kita yang diberi sakit, penderitaan dan ajaran atau hikmat itu belum cukup adanya apakah tubuh kita masih berani meminta kesembuhan?
“Cukuplah kasih karuniaKu kepadamu”, kata Tuhan kepada Paulus.

Karena Kristus yang tinggal di dalam kita itu mengasihi tubuh kita, maka kita diberi pengajaran, dalam bahasa penderitaannya dihajar
Dan karena Kristus mengasihi Tuhan dalam TritunggalNya maka Ia menolong setiap orang yang Ia pilih agar menjadi anggota-anggota yang saling mengasihi juga.
Agar semua roh yang tunduk tadi bersatu dalam Roh Kasih dalam KerajaanNya kelak.
Atau untuk sekarang agar semua roh yang dikepalai oleh Roh Kristus mampu menundukkan tubuhnya, dagingnya, untuk melakukan yang baik, karena Kristus adalah Tuhan, dan Tuhan adalah baik.

Jika roh kita adalah satu, bukankan kita seharusnya saling mengenal?
Saling mengenal di dalam kasih, karena roh itu mengajarkan kasih.

….lawan kita adalah roh-roh di udara …
ini adalah kebenaran, bahwa ada roh-roh yang menggangu kita, yang memutarbalikkan pemikiran, logika, untuk mengiakan akan kekuatan tubuh atas roh…
Maka terlahirlah raja-raja baru, tuhan-tuban baru… yang sering diajak, diketuk mata hatinya agar terbuka kepada Roh Kristus.
Dalam keadaan inilah kita di ambang keluar dari kasih.
Dan penderitaan yang seharusnya menjadi pengajaran, oleh tubuh yang goyah, telah diubah menjadi hukuman.Ia merasa itu adalah hukuman.
Dan orang terhukum selalu meminta segala sesuatu dengan cepat, dan tidak ada kasih di dalamnya.

Dosa Massal

Juli 30, 2009 pada 4:12 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | 8 Komentar
Kaitkata: , ,

Dunia Turun Angkot

“Taaat”,..”Tiit”…
“Kaki kiri, kaki kiri…”
“Brikit.. Brikit…”
(Brikit = Buruan sedikit)
…”Heh goblok, jauh banget sech turunnya”, dilanjutkan
lagi dengan nada menggerutu…
“.. jadi jauh neh jalan, angkot berikut di sana, turunnya
di sini..”

Si supir bukannya tidak paham gerutuan tadi, bahwa setiap
hari dia juga terhitung ratusan kali melanggar rambu,
tetapi yang terjadi adalah seorang polisi berdiri di lampu
merah sehingga ia tidak berani menurunkan penumpang di
sana.

Itulah gambaran kecil, turunnya penumpang di salah satu
jalan protokol di Jakarta.
Tentu idealisme berbunyi, turun dan naik penumpang adalah
di Halte. Di lampu merah jangan menurunkan penumpang.

Tetapi…
Jika Haltenya tata letaknya tidak benar, sehingga kita
harus berjalan ratusan meter untuk mendapatkan angkot
berikutnya atau terkadang kita menunggu di Halte malah
tidak dapat angkot sama sekali, untung-untung mendapat
angkotnya dengan konsekuensi kita harus berdiri sampai
berjam-jam dan dirapatkan dengan “density dua
puluh orang per satu meter satuan luas kali satuan tinggi orang-orangnya”.
Belum lagi faktor “malas” jalan para penumpang yang budiman, sehingga begitu
senangnya kita menunggu angkot di perapatan jalan.

Saya juga melihat, bahwa Pak Polisi yang gagah itupun bisa tunduk dengan uang berwarna kemerahan itu.

Intinya kacau bukan ?

Bayangkanlah jika dunia “turun angkot” ini dilakoni para penatua agama, para baik hati, para preman dan lain para yang lain…

Masih membayangkan,..
bayangkanlah dunia luar sana, di luar dunia turun angkot, betapa mega super kacaunya kalau dipikirkan bukan ?
Dan oleh karenanya telah lahir jaring laba-laba, jaring tarantula (meminjam kata Nietzsche).

Maka di negara yang semrawut seperti ini terciptalah dosa massal.

Sebelum berteriak atas kesalahan Bapak Pemimpin itu, bertanyalah :”Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”

Tritunggal

Juli 29, 2009 pada 3:20 pm | Ditulis dalam Apologet | 15 Komentar
Kaitkata:

Banyak yang menyajikan kedalaman artinya tetapi saya memilih satu pasal penuh yaitu Hakim-hakim 13 saja

Hakim-hakim
13:1 Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.
13:2 Pada waktu itu ada seorang dari Zora, dari keturunan orang Dan, namanya Manoah; isterinya mandul, tidak beranak.
13:3 Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: “Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.
13:4 Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.
13:5 Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin.”
13:6 Kemudian perempuan itu datang kepada suaminya dan berkata: “Telah datang kepadaku seorang abdi Allah, yang rupanya sebagai rupa malaikat Allah, amat menakutkan. Tidak kutanyakan dari mana datangnya, dan tidak juga diberitahukannya namanya kepadaku.
13:7 Tetapi ia berkata kepadaku: Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; oleh sebab itu janganlah minum anggur atau minuman yang memabukkan dan janganlah makan sesuatu yang haram, sebab sejak dari kandungan ibunya sampai pada hari matinya, anak itu akan menjadi seorang nazir Allah.”
13:8 Lalu Manoah memohon kepada TUHAN, katanya: “Ya Tuhan, berilah kiranya abdi Allah, yang Kauutus itu, datang pula kepada kami dan mengajar kami, apa yang harus kami perbuat kepada anak yang akan lahir itu.”
13:9 Maka Allah mendengarkan permohonan Manoah, sehingga Malaikat Allah datang pula kepada perempuan itu, ketika ia duduk di padang dan ketika Manoah, suaminya itu, tidak ada bersama-sama dengan dia.
13:10 Kemudian perempuan itu segera berlari memberitahukan kepada suaminya, katanya kepadanya: “Orang yang datang kepadaku baru-baru ini menampakkan diri pula kepadaku.”
13:11 Lalu bangunlah Manoah dan mengikuti isterinya. Setelah sampai kepada orang itu, berkatalah ia kepadanya: “Engkaukah orang yang telah berbicara kepada perempuan ini?” Jawabnya: “Benar!”
13:12 Lalu kata Manoah: “Dan apabila terjadi yang Kaukatakan itu, bagaimanakah nanti cara hidup anak itu dan tingkah lakunya?”
13:13 Jawab Malaikat TUHAN itu kepada Manoah: “Perempuan itu harus memelihara diri terhadap semua yang Kukatakan kepadanya.
13:14 Janganlah ia makan sesuatu yang berasal dari pohon anggur; anggur atau minuman yang memabukkan tidak boleh diminumnya dan sesuatu yang haram tidak boleh dimakannya. Ia harus berpegang pada segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
13:15 Kata Manoah kepada Malaikat TUHAN itu: “Perkenankanlah kami menahan Engkau di sini, supaya kami mengolah anak kambing bagi-Mu.”
13:16 Tetapi jawab Malaikat TUHAN itu kepada Manoah: “Sekalipun engkau menahan Aku di sini, hidanganmu itu tidak akan Kumakan. Tetapi jika engkau hendak mengolahnya menjadi korban bakaran, persembahkanlah itu kepada TUHAN.” Sebab Manoah tidak mengetahui, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN.
13:17 Kemudian berkatalah Manoah kepada Malaikat TUHAN itu: “Siapakah nama-Mu, sebab apabila terjadi yang Kaukatakan itu, maka kami hendak memuliakan Engkau.”
13:18 Tetapi jawab malaikat TUHAN itu kepadanya: “Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama itu ajaib?”
13:19 Sesudah itu Manoah mengambil seekor anak kambing dan korban sajian, lalu mempersembahkannya kepada TUHAN di atas batu. Lalu diperbuat-Nya keajaiban, sementara Manoah dan isterinya memandanginya.
13:20 Sedang nyala api itu naik ke langit dari mezbah, maka naiklah Malaikat TUHAN dalam nyala api mezbah itu. Ketika Manoah dan isterinya melihat hal ini, sujudlah mereka dengan mukanya sampai ke tanah.
13:21 Sejak itu Malaikat TUHAN tidak lagi menampakkan diri kepada Manoah dan isterinya. Maka tahulah Manoah, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN.
13:22 Berkatalah Manoah kepada isterinya: “Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah.”
13:23 Tetapi jawab isterinya kepadanya: “Seandainya TUHAN hendak membunuh kita, maka tidaklah Ia menerima korban bakaran dan korban sajian dari tangan kita dan tidaklah Ia memperlihatkan semuanya itu kepada kita dan tidaklah Ia memperdengarkan hal-hal yang demikian kepada kita pada waktu sekarang ini.”
13:24 Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia.
13:25 Mulailah hatinya digerakkan oleh Roh TUHAN di Mahane-Dan yang terletak di antara Zora dan Esytaol.

(sumber ayat dari http://www.sabda.org, Copyright LAI)
Mari kita bahas:

13:1 Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.

Pribadi yang beraktifitas di sini adalah TUHAN (ditransliterasikan ADONAI dalam Ibrani).
Dialah yang menciptakan dunia dan segala isinya, yang Awal dan yang Akhir , Alpha dan Omega (Yunani, Wahyu 1:8), Rhison dan Ahharon (Ibrani, Yesaya 48:12), Dialah Penebus Israel (Yesaya 44:6, Yesaya 49:7), IA KUDUS (Mazmur 99:9) dan SUCI (1 Jn 3:3), di dalam Dia tidak ada Dosa (1 Jn 3:5)

13:3 Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: “Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.
13:6 Kemudian perempuan itu datang kepada suaminya dan berkata: “Telah datang kepadaku seorang abdi Allah, yang rupanya sebagai rupa malaikat Allah, amat menakutkan. Tidak kutanyakan dari mana datangnya, dan tidak juga diberitahukannya namanya kepadaku.

Pribadi yang dominan di sini adalah Malaikat TUHAN.
Berfirman di sini dalam Strong Hebrew menggunakan kata ‘amar.
Presiden tidak berfirman kepada menterinya. Sekjen PBB tidak berfirman kepada anak SD di Jakarta, tetapi hanya Subjek TUHAN yang disebut berfirman.
Maka dituliskan… Malaikat TUHAN berfirman
Tetapi kata yang sama, ‘amar, digunakan ketika Istri Manoah berkata kepada suaminya.
Yang pada akhirnya kitapun harus membedakannya sesuai wacana, Presiden tidak berfirman kepada bawahannya, hanya TUHAN yang berfirman.
Kalau kita bertanya kenapa Malaikat Tuhan ini harus dituliskan dengan ‘amar=berfirman, bukan ‘amar=berkata…untuk sementara kita lanjutkan dulu dengan perkataan istri Manoah di ayat 6 tadi, sesuai pengertiannya bahwa:
Malaikat TUHAN=abdi Allah (rupanya sebagai rupa malaikat Allah)
sehingga menggerakkan hati sang suami untuk….

13:8 Lalu Manoah memohon kepada TUHAN, katanya: “Ya Tuhan, berilah kiranya abdi Allah, yang Kauutus itu, datang pula kepada kami dan mengajar kami, apa yang harus kami perbuat kepada anak yang akan lahir itu.

Tentu sang suami berdoa kepada TUHAN (lihat di atas siapa Pribadi TUHAN), supaya abdi Allah= Malaikat TUHAN (malaikat=utusan=pemberi berita) datang kembali untuk memperjelas “firmanNya” (diquote untuk memperjelas bahwa kata ini masih membutuhkan penjelasan di akhir nanti)

lalu…


13:9 Maka Allah mendengarkan permohonan Manoah, sehingga Malaikat Allah datang pula kepada perempuan itu, ketika ia duduk di padang dan ketika Manoah, suaminya itu, tidak ada bersama-sama dengan dia.
13:10 Kemudian perempuan itu segera berlari memberitahukan kepada suaminya, katanya kepadanya: “Orang yang datang kepadaku baru-baru ini menampakkan diri pula kepadaku.”
13:11 Lalu bangunlah Manoah dan mengikuti isterinya. Setelah sampai kepada orang itu, berkatalah ia kepadanya: “Engkaukah orang yang telah berbicara kepada perempuan ini?” Jawabnya: “Benar!”

TUHAN mendengar doa Manoah, “orang” itupun datang, Malaikat TUHAN itu datang, abdi Allah itu datang, Utusan itu datang,….

… seterusnya

13:21 Sejak itu Malaikat TUHAN tidak lagi menampakkan diri kepada Manoah dan isterinya. Maka tahulah Manoah, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN.
Apa yang perlu kita kagetkan dengan kalimat ini?, kenapa harus ada kata Maka tahulah Manoah…

itu disebabkan oleh…


13:22 Berkatalah Manoah kepada isterinya: “Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah.”

Nah sekarang kita sudah mengenal Pribadi Malaikat TUHAN ini bukan ?, Dia adalah Allah, dan Allah layak berfirman.

Apakah masih ada yang tersirat?
Ada….
Manoah berdoa kepada TUHAN, supaya Abbi Allah itu datang.
karena TUHAN adalah SUCI, KUDUS dan tidak ada Dosa di dalamNya, maka Ia tidak berbohong untuk mewakilkan DiriNya dengan diri yang lain, hanya untuk memenuhi doa Manoah, yaitu berjumpa lagi dengannya. Tetapi Ia sendiri datang untuk memenuhi doa Manoah. Ia datang dalam istilah terkenal Teofani.
Sungguh kedalaman yang sulit dipahami bukan?. terlebih untuk menjawab keraguan Manoah dalam memastikan siapa yang datang itu, Ia menjawab: “Benar”, artinya..”Akulah DIA, Akulah Yang Datang itu itu”...
IA tidak terlalu kaku dengan perngertian sementara Manoah bahwa abdi Allah=orang Utusan=Malaikat Tuhan… Tetapi malah Malaikat TUHAN itu melakukan hal-hal yang ajaib sampai Manoah mendesah..”Binasalah kita sebab kita telah melihat Allah..”.
sampai di sini kita diwarisi pengajaran dari keluarga kecil yang mendapat karunia perjumpaan dengan TUHAN ini,.. bahwa: Malaikat TUHAN= abdi Allah=malaikat Tuhan=utusan=orang (yang rupanya sebagai malaikat Tuhan)=Allah.
SemuaNya adalah Pribadi yang sama karena melihat dan merasakan Pekerjaan yang sama, yaitu KUASA yang sama.

Pribadi TUHAN tidak terkungkung akan pengertian manusia, baik kita panggil abdi Allah, orang, malaikat Tuhan, Malaikat TUHAN, Dia, tetaplah DIA, adalah TUHAN.

Utusan tertentu, Tuhan tertentu, Allah tertentu bisa saja mengaku ADONAI, tetapi lihatlah buah dari pekerjaanNya, maka kita bisa tahu pribadi di baliknya.
Di dalam kalimat-kalimat Ibrani di Alkitab, Kata Kerja selalu mendahului Subjek.. maknanya bagi saya adalah dari hasil Kerja itu kita bisa tau siapa Subjeknya
dan pada akhirnya…

13:25 Mulailah hatinya digerakkan oleh Roh TUHAN di Mahane-Dan yang terletak di antara Zora dan Esytaol.

Pribadi dominan beralih kepada Roh TUHAN…
Di awal dikatakan, anak yang lahir ini akan dan harus melakukan apa perintah TUHAN…
Anak ini dikhususkan buat TUHAN… dan Samson itu dituliskan di pasal berikutnya dikuasai Roh TUHAN…

Bhinneka Tunggal Ika

Juli 29, 2009 pada 2:03 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata:

Di dalam sebuah rapat kecil, urat kita serasa menjadi tegang ketika apa yang sudah kita putuskan pada akhirnya harus dirombak karena ada orang yang kurang paham atau malah tidak setuju.
Tentu tenaga, waktu dan kesabaran akan disita habis-habisan untuk menyamakan prinsip lagi.

Jika kumpulan kecil tadi kita kali dengan sejuta, maka itulah gambaran kusut dalam sebuah negara yang ber-bhinneka.

Founding fathers kita mencetuskan, Bhinneka Tunggal Ika. Biarpun otak kita berbeda, bahasa, logat, pemikiran, adat dan sebagainya, kita tetaplah satu yaitu Republik Indonesia.

Ranah itu memang membangkitkan tingkat nasionalisme, bulu kuduk kita berdiri kala mendengar Indonesia Raya dikumandangkan di event Internasional misalnya.

Tetapi…
(setiap kata tetapi selalu mengejutkan kita, meminjam kalimat Swindoll)
…ketika memasuki wilayah agama, maka apa yang terjadi adalah lahirnya pertanyaan ujung , “Lebih tunduk kepada negara, atau kepada Tuhan?”…

Orang yang memilih lebih tunduk kepada Tuhan tentunya sedang melakukan apa-apa yang kemungkinan tidak sama dengan apa yang diinginkan Negara. Bahwa mengatakan Presiden penakut, pendosa adalah perbuatan yang tunduk kepada Tuhan, tetapi melewati kelancangan kenegaraan.

Cara yang jitu, kita hanya perlu menggali “kekuatan” Tuhan kita.
Kalau kita memahami Tuhan mahakuasa, apa faedahnya untuk tidak tunduk kepada negara.
“Berbuatlah yang baik”, kata Kitab Suci. Kalau ada pemerintahan yang tidak menyetujui kebaikan, itulah yang harus dilawan. Dilawan dengan berbuat baik lagi.. berbuat baik lagi, lagi dan lagi…

Jadi perbedaan yang ada adalah untuk menajamkan kita.
Janganlah kiranya kita berjuang untuk memperoleh kesamaan, sebab kita sudah diciptakan berbeda.
Perbedaan adalah salah satu wajah dari keunikan.

Iman menajamkan iman.
Agama menajamkan agama.
Kebaikan melahirkan kebaikan.

Bhinneka Tunggal Ika, satu di dalam berbuat baik

Mengidolakan Tuhan

Juli 29, 2009 pada 9:25 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan Komentar
Kaitkata:

Sebuah team sepak bola yang terkenal sejagad melakukan pertandingan final kejuaraan di tingkat benua.
Dua team tentunya akan beradu di sana.
Kedua team ini memiliki para penggemar-penggemar sejati. Bahkan penggemar sejati yang lain sudah lebih dulu merasakan sakit hati karena teamnya tumbang di babak-babak awal.
Sebelum perhelatan dimulai, maka akan begitu banyak kalimat-kalimat dari kedua kubu yang akan saling menyerang, mengungguli, melemahkan dan tentunya bahasa-bahasapun terkadang melewati nalar.
Seorang penggemar tanpa mengenal, tanpa “melihat” hanya menonton dan membaca dari media akan memberi penilaian melangit untuk pemain tertentu yang bisa jadi adalah seorang yang bertalenta tinggi.
Dia telah menjadi idola. Dan si penggemar telah mengidolakan si pemain dengan amat sangat.

Di dunia lain juga hadir idola-idola, di dunia musik, di dunia film dan lain sebagainya.
Mereka tumbuh dan hilang, terkadang ada juga yang menua melewati waktu.

Jika diperhatikan orang-orang yang telah mengidolakan seseorang, pada usia tertentu mungkin faktor kecepatan menyerap lebih tinggi, maka lambat laun pola hidup, gaya sang idola bisa mengubah, bahkan bisa sampai total, dari pola hidup si penggemar.
Orang yang sudah berubah telah menciptakan gambaran yang lebih dari apa yang terlihat.
Dan karena ia hanya menonton dan membaca dari panca indera turunan maka tentu banyak informasi yang keliru, banyak kejadian yang terlepas, dan banyak interaksi yang salah.
Terlebih jika ternyata sang idola adalah kekeliruan yang lain, maka bukankah akan terbentuk kekeliruan-kekeliruan yang lain yang lebih gelap?

Sekarang marilah melihat yang satu ini.
Seseorang yang telah mengidolakan Tuhan, apakah yang sanggup ia berikan untuk sang idola?
Bahkan untuk “kesalahan” tertentupun maka si penggemar akan membela mati-matian sang idola, jangankan nyawa, dunia inipun akan diberangus untuk itu.

Maka kitapun tersadar, atau mungkin kita harus menilik dalam ke hati, ke iman kita.
Apakah Tuhan kita pandang sebagai idola?
atau kita melihat, merasakan, atau menjunjung Tuhan sebagai Tuhan?

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.